Visual FX Film ELYSIUM

Ada banyak studio yang terlibat dalam pembuatan visual efek untuk Elysium, diantaranya Image Engine, Weta Workshop, Whiskytree, Method Studios, ILM, The Embassy, MPC, Kerner Optical dan MastersFX. Sebagai lead VFX vendor, Image Engine yang lebih banyak menangani visual efeknya. Dari 822 scene, 70 persennya dikerjakan oleh Image Engine.

Hasil akhir gambaran Elysium dilihat dari arah luar

Previs Elysium dari arah luar

Berada di lokasi selama produksi membuat Image Engine mendapat gambaran lebih jelas dalam membuat VFX untuk film ini. “Bekerja sama dengan pihak yang terlibat langsung di lapangan adalah cara pendekatan yang sangat efektif dalam sebuah film yang memiliki muatan VFX yang sangat banyak,” Andrew Chapman, Associate Visual Effects Supervisor Image Engine memberi penjelasan.


Miniatur yang digunakan dalam proses pengambilan gambar suasana di Elysium

CG modeling untuk previs suasana di Elysium

Hasil akhir gambar suasana di Elysium

Miniatur yang digunakan dalam proses pengambilan gambar suasana di Elysium

Hasil akhir gambar suasana di Elysium

Hasil akhir gambar suasana di Elysium

Hasil akhir gambar suasana di Elysium

Chapman memuji metode sang sutradara yang menginginkan lebih banyak gambar yang dibuat melalui kamera. “Kebanyakan orang menganggap VFX hanya dibuat oleh komputer. Tapi disini kebalikannya. Kami ingin sebanyak mungkin dibuat dengan kamera,’ lanjut Chapman.


Adegan pesawat luar angkasa yang hendak lepas landas menimbulkan hembusan angin yang kencang dan meniup debu dan pasir yang ada di sekitarnya.

Efek hembusan pasir dibuat tanpa menggunakan CG melainkan life shoot yang dibuat menggunakan helikopter.
Sebagai contoh dalam adegan pesawat yang lepas landas atau mendarat di Bumi. Untuk menghasilkan kondisi lingkungan dengan debu dan pasir yang tertiup angin kencang, Blomkamp sang sutradara menggunakan helikopter untuk menghasilkan pergerakan debu dan pasir yang realistik. Pergerakan helikopter pun menjadi referensi bagaimana kendaraan CG nantinya bergerak.

Contoh lainnya adalah droid. Blomkamp mengarahkan langsung aktor berpakaian lycra warna abu-abu untuk mendapatkan penampilan yang diinginkan. Dalam proses pasca produksi nantinya aktor berpakaian abu-abu ini digantikan oleh droid yang dibuat di 3D. Proses animasinya dibuat secara manual atau key-framed menggunakan aplikasi Autodesk Maya, dengan satu droid memiliki sekitar 686 riggings control.


Aktor berpakaian lycra warna abu-abu sebagai acuan pembuatan CG droid. 

Hasil akhir robot droid yang dibuat menggunakan CG

Metode seperti ini sekaligus memungkinkan pihak VFX studio untuk mengambil HDRI dan data-data lainnya yang dibutuhkan berkenaan dengan adegan tersebut.

Neil Blomkamp, sejak sebelum film perdananya District 9, memang sudah membuat kagum melalui karya-karya film pendeknya yang penuh dengan CG. Karena itulah ia mengerti betul hubungannya
mendapatkan data dan referensi di lokasi akan berpengaruh langsung pada hasil akhir.

Pembuatan ring atau torus Elysium pastinya menjadi pekerjaan VFX paling berat. Desain stasiun luar
angkasa ini dikerjakan oleh Syd Mead, berkolaborasi dengan WETA Workshop, divisi VFX design Image Engine, dan George Hull yang juga diajak oleh sang sutradara.

Gambaran Malibu yang dijadikan referensi lingkungan di Elysium, membutuhkan banyak asset seperti pohon, tanaman, semak, rumput, bunga dan bangunan. “Satu buah pohon bisa berkisar antara lima ratus ribu sampai 20 juta triangles,” CG supervisor Votch Levi, menjelaskan. “Semuanya hi-res.


Hasil akhir proses rendering suasana di Elysium

Modeling Elysium yang sangat detail dibuat menggunakan CG

Kami tidak menggunakan sprites, dan tidak menggunakan level of detail. Kami ingin melihat sejauh mana bisa membuat environtment tanpa menggunakan matte painting. Kami bisa membuatnya menggunakan asset tanpa mengalami banyak masalah.”

Whiskytree menggunakan Arnold Render untuk menghasilkan gambar lingkungan Elysium tersebut. Penggunaan Arnold memungkinkan Whiskytree menangani scene dengan 3 triliun triangles. Hal ini menjadikan pendekatan sebelumnya yang memisahkan antara teknik matte painting, camera projection, dan lainnya, tak diperlukan lagi. “Kami memberikan semua orang kebebasan berkreasi untuk membuat apapun yang mereka mau,” Levi menambahkan.***

Artikel oleh: Fitra Sunandar
Diolah dari berbagai sumber. Images ©2013 CTMG.
(Dilarang menyadur/mengutip/mempublikasi ulang tanpa mencantumkan sumber dan nama penulis)

Post a Comment

0 Comments