VFX Film Wolverine - REFERENCE IS ALWAYS THE KEY!

Ledakan bom nuklir pada awal film The Wolferine dibuat oleh Rising Sun Pictures (RSP), dibawah pengawasan visual effects supervisor dari RSP, Tim Crosbie. “Sang sutradara tak mau jenis ledakan nuklir yang tipikal berbentuk seperti jamur,” ia menjelaskan.

Hasil akhir gambaran suasana ledakan bom nuklir

Proses pengambilan adegan ledakan bom nuklir menggunakan green screen

Prema Paetsch, FX Lead dari RSP menjelaskan proses pembuatan efek ledakan tersebut: “Awan dari ledakan dihasilkan dari kombinasi teknik menggunakan software Houdini. Simulasi ledakan tersebut membutuhkan detail. Particle systemnya dibuat dengan smoke simulation untuk gerakan dan sifat asap secara umum. Jadi kami bisa mengatur bentuk, waktu dan tampilan partikel asapnya seperti ‘tulangbelulang’. Kemudian kami mengembangkan kumpulan simulasi asap yang lebih kecil dan
terpisah, untuk menghasilkan pergerakan dan detail dari ledakan tersebut. Simulasi tersebut kemudian dijadikan instance pada partikel awan dengan parameter yang bervariasi agar terlihat padat tapi tidak terkesan repetitif. Lighting dan shading menggunakan banyak control pass untuk menghasilkan detail shading dan GI (global illumination) pada volume yang bisa dirender. Internal illumination dibuat dengan trik lama dimana ribuan point light ukuran kecil disebarkan di dalam volume awan dan intensitas serta jarak diatur sampai sesuai dengan yang diinginkan.” Rumit sekali ya terdengarnya.

Hal tak kalah rumit juga terdapat pada adegan Viper yang diperankan Svetlana Khodchenkova
merobek kulit wajahnya. “Sebisa mungkin kami melakukannya secara langsung dengan berbagai
jenis kamera tapi akhirnya kami harus melakukan match moving,” Phil Brenan yang bertugas
sebagai visual effects supervisor menjelaskan. “Si Svetlana di-scan untuk bisa menghasilkan versi CG nya, yang bentuk dan texturenya semirip mungkin dengan aslinya. Ekspresi wajah harus sesuai match moveing nya, jadi bagaimanapun kondisi mukanya, kita bisa menambahkan lapisan kulit diatasnya.”

Adegan saat Viper merobek kulit wajahnya

Adegan saat Viper merobek kulit punggungnya yang referensi diambil dari kulit ular, ikan sampai buah leci. 


Weta Digital Visual Effects Supervisor, Martin Hill, merasa tertantang dalam pembuatan scene
tersebut. Ia menggunakan referensi dari kulit ular dengan kondisi kulit yang tercabik-cabik. Kulit yang
terkelupas dicari referensinya menggunakan ikan sampai buah leci. Bahkan dua orang kru Weta
dipakaikan latex dan direkam proses merobek kulit buatan itu dari wajah mereka. Hal ini
memberi banyak referensi, terutama pada bagian mata.

“Kulit manusia selalu menjadi tantangan,” Hill menambahkan, “dan kami selalu memperbaiki
metode pembuatannya. Banyak faktor agar tampilan kulit tidak seperti plastik, lilin atau
selalu tampak sama. Referensi selalu jadi kuncinya.”

Selain mengurusi efek visual pada kulit wanita cantik, Weta juga bertanggung jawab pada
perubahan tampilan kulit lelaki tua bernama Yashida, yang berambisi untuk bisa immortal
seperti Wolferine.

Hasil akhir adegan perubahan kulit wajah Yashida.

Modeling kepala Yashida dan pakaian robot silver samurai

Yashida muda diperankan oleh Ken Yamamura sedangkan yang tua diperankan Haruhiko
Yamanouchi. Ada banyak lapisan kulit dan make-up untuk masing-masing aktor. Pada
masing-masing pengambilan gambar diambil dulu gambar pada tampilan paling muda lalu
ditambahi efek tua nya. Pemeran Yashida tua menduplikasi Yashida muda pada beberapa
posisi dan diambil gambarnya menggunakan Red Epics dari angle yang berbeda secara
simultan. Kemudian diberi lampu agar sesuai dengan kondisi Ken Yamamura saat live shoot.
Dengan begitu bisa didapatkan banyak texture dan pergerakan yang sesuai antara kedua aktor
tersebut.

“Sangat sulit melakukannya on-set karena butuh waktu lama,” Martin Hill menerangkan. “Efek tersebut merupakan kombinasi antara on-set photography, kumpulan footage dari green screen shoot yang menggunakan multiple kamera serta CG untuk mengisi gap antara keduanya. Efek penambahan dan pengurangan usia dibuat dengan 3D menggunakan match moving pada footage, jadi bisa mem-blend shape model atau texture secara terpisah antara kedua wajah. Compositor membuat blend
mattes dari beberapa layer pada UV, mengatur posisi timelinenya, jadi deformasi, texture, dan
displacement semuanya bisa sesuai. Banyak pekerjaan saat compositing untuk menghasilkan
gambar yang sempurna. Pada beberapa adegan kami menggunakan gigi atau mata dari hasil
shooting.”

Pengambilan adegan perkelahian yang melibatkan silver samurai
Penambahan CG model silver samurai

Hasil akhir setelah ditambahkan silver samurai yang dibuat menggunakan CG

Pada adegan perkelahian Wolverine dengan Silver Samurai, 3D modelnya di print 3D dan dilapisi chrome menggunakan metode elektrolisis untuk digunakan di lokasi untuk adegan yang tak banyak pergerakannya. Untuk membuat si samurai terlihat hidup dan bernafas, Weta Digital membuatnya agar bisa berkelahi sementara concept designnya terlihat terlalu grafis.

Stunt performer Shane Rangi berdiri diatas penopang selama adegan Silver Samurai. Ia diberi pakaian pseudo mocap agar bisa direkam pergerakannya. Bagian tersulitnya adalah membuat tampilan kostum Silver Samurai yang sangat reflektif. Weta berusaha agar tidak terlalu tampak digital dan terlihat solid dan real, bukan hanya seperti lapisan kaca. Jadi mereka membutuhkan waktu cukup lama mencoba material metal yang cocok dengan multi-layer struktur dengan efek anisotropic patina, tapi tetap reflektif.***

Artikel oleh: Fitra Sunandar
Diolah dari berbagai sumber. Productions stills and visual effects images courtesy of Twentieth Century Fox Film Corporation, Weta Digital dan Rising Sun Pictures.
(Dilarang menyadur/mengutip/mempublikasi ulang tanpa mencantumkan sumber dan nama penulis)

Post a Comment

0 Comments