ATY SAMADIKUN - Director

IBU dari Akira Soedharto dan Abilasha Soedharto ini mengaku suka kangen berada di depan layar
monitor, berkutat dengan visual effect dan melakukan sulap menggunakan Flame, pekerjaan
yang dulu sering diakukannya saat menjadi compositor. Lulusan American College in London ini
sekarang lebih sibuk menjadi seorang director untuk film iklan.

Aty Samadikun

Anda dulunya compositor, ya? Bisa diceritakan?
Di tahun 1998 saya mulai bekerja sebagai junior compositor di The Post Office. Kemudian tahun 2004-2007 saya bekerja dengan VHQ Post group. Di sini selain bekerja sebagai in-house visual effects artist, saya beberapa kali ikut terlibat di syuting sebagai post-production supervisor.

Kenapa kemudian memutuskan untuk menjadi director?
Tahun 2008 saya membuka motion design studio sederhana yang bernama POS(H)A. Tujuannya adalah ingin memberikan nafas baru di dunia animasi/periklanan Indonesia. POS(H)A melirik kepada fresh graduates yang masih memiliki semangat tinggi dan masih haus akan pengalaman profesional. Di sini saya berusaha untuk me-nurture mereka dengan baik. Plus, dulu saya memang punya cita-cita
untuk menjadi Animation Director dan saya yakin melalui POS(H)A saya bisa mewujudkannya.

Masih inget job pertama jadi director?
Bagaimana ceritanya, awal mula sampai bisa menangani job itu. Suatu hari saya ngobrol santai dengan Glenn Alexander (waktu itu Creative Director di Ogilvy). Saya menceritakan sedikit tentang POS(H)A. Kurang lebih seminggu kemudian, dia mengontak saya mengenai proyek filler prodak susu yang berkonsepkan seperti video karaoke anak-anak. Dan jadilah itu pengalaman pertama saya dalam penyutradaraan.

Tak lama sesudah itu, saya ditawarkan oleh Sari Nirmolo (Executive Produser dari Visual Farm) untuk menyutradarai sebuah iklan prodak elektronik untuk Saatchi Lab bersama Juhi Kalia (saat itu Executive Creative Director di Saatchi Lab). Dari sini, mulai pelan-pelan saya dikondisikan sebagai young commercial director. Jenis iklan yang dipercayakan ke saya mayoritas adalah iklan-iklan yang berbasis animasi atau visual effects.

Lebih enak mana, jadi compositor atau director?
Buat saya, menjadi compositor itu pengalaman yang luar biasa. Kita bagaikan melukis di sebuah
kanvas dan melakukan sulap dalam waktu yang instan di hadapan banyak klien. Saya kadangkadang
rindu dengan pekerjaan ini. Pengalaman yang berbeda tentunya saya rasakan sebagai sutradara. Bagaimana sebuah ide kita bisa direalisasikan melalui kerjasama team dan pada akhirnya
kita melihatnya ditayangkan di TV atau bioskop, itu amat sangat rewarding!

Jadi, mana yang lebih disuka?
Saya masih belum bisa memutuskan, hahaha.

Pernah jadi visual effect artist, berarti menguasai 3D juga?
Saya tidak pernah memakai software 3D tetapi saya hanya memiliki pengetahuan umum saja. Saya lebih berkecimpung seputar compositing dengan menggunakan software Flame.

Saat di post atau saat jadi FX artist, Anda menerima istruksi dari director. Sekarang memberi instruksi sebagai director, apa yang Anda rasakan?

Keuntungannya memiliki background di post-production adalah saya bisa lebih merencanakan komponen gambar dengan lebih baik supaya tidak terlalu menyusahkan postproduction team. Semoga belum pernah dan tidak akan pernah terlalu menyusahkan, hehehe. Masalah berapa lama pengerjaan, saya masih bisa estimasi, namun seharusnya bukan pendapat saya yang diutamakan. Saya
sangat menghormati pendapat pihak postproduction dalam hal ini karena merekalah yang
bertanggung jawab untuk menentukan berapa lama. Dan saya tetap perlu berkonsultasi dengan
mereka untuk hal-hal teknis karena fokus saya sudah di tempat yang lain.***

Artikel dan interview oleh: Fitra Sunandar
(Dilarang menyadur/mengutip/mempublikasi ulang tanpa mencantumkan sumber dan nama penulis)

Post a Comment

0 Comments