FIRMAN WIDYASMARA - Stop Motion Artist

Dibanding animasi 2D atau 3D, animasi stopmotion mungkin kalah populer di negeri kita ini. Tapi dengan tayangnyanya film Shaun the Sheep di salah satu stasiun TV yang dibuat dengan teknik tersebut, membuat animasi jenis ini semakin dikenal belakangan ini.


Firman Widyasmara
Praktisinya yang menekuni teknik stopmotion di negeri ini mungkin tak banyak yang kita kenal. Salah satu pembuat film stopmotion yang saya tahu adalah Firman Widyasmara. Ia banyak berprestasi dengan menjuarai beberapa festival, dan belum lama ini ia berkesempatan untuk mendalami tentang teknik stopmotion ke negeri Jepang, dan membagikan cerita hasil perjalanannya tersebut untuk pembaca veegraph. com.

Berikut hasil obrol-obrol antara Veegraph dan Firman Widyasmara melalui Facebook:

Sedang sibuk bikin proyek apa sekarang?
Sampai hari ini masih bersibuk beres-beres printilan manajemen studio di rumah dan kegiatan workshop komunitas Lanting yang sempat terhenti lama. Juga sedang merambah ke area mobile apps untuk pengembangan produk. Untuk produk animasinya sendiri masih melakukan proses obrol-obrol dengan pihak produser yang penasaran dengan dunia stopmotion. Dan untuk produksi animasi pribadinya (independen) masih antri karena tertahan jadwal yang lain, walaupun sebetulnya sudah ada rencana produksi lagi mulai bulan mendatang.

Kegiatan sehari-hari apa, freelance atau kerja inhouse?
Dari tahun 2007 saya mengembangkan komunitas kecil untuk kegiatan workshop dan pengenalan animasi stopmotion, Lanting Workshop dan juga mengembangkan unit usaha produksi animasi dengan Moxie Indonesia bersama rekan. Tapi berhubung kendala manajerial maka untuk produksi di Moxie kami hentikan sementara. Saat ini, saya bergerak atas nama pribadi secara freelance untuk klien, mengembangkan produk lain dengan rekan rekan, atau menulis cerita untuk tabungan karya film pendek lain di depan.

Prestasi dibidang animasi yang pernah diraih apa aja?
Pertama kali mendapatkan penghargaan di bidang animasi adalah di tahun 2005 ketika mengikutsertakan karya animasi pertama saya berjudul ‘Help!’ di ajang Hello;fest Vol.2 Motion Arts Festival dan mendapatkan Grand Prize Winner. Saat itu saya masih berstatus sebagai karyawan analis kredit di sebuah bank swasta dan sebagai siswa dari sekolah animasi Hellomotion di Jakarta.

Lalu kembali mendapatkan penghargaan 1st Winner on Commercial/Spot Animation Category untuk film yang sama, ‘Help!’ dalam Festival Film Animasi Indonesia 2005.

Pada 2006 ketika saya memutuskan berpindah jalur dari perbankan ke dunia animasi dengan bergabung bersama tim produksi Dapupu Studio (Hellomotion), satu karya produksi stopmotion yang dikerjakan oleh saya juga mendapatkan penghargaan Citra Pariwara, Silver Award for Best Animation dan Bronze Award for TV/ Cinema untuk animasi iklan Teh Botol Sosro ‘Gerhana Bulan’. Award ini diraih oleh pihak PH dan Agency yang menjadi klien kami.

Pada 2007, komunitas kecil kami, Lanting, melahirkan karya claymation pertama kami, ‘Invasion Of The Penguins’, sempat diputar di Urbanimation 2008, Hellofest 2009 dan Festival Film Indonesia di Melbourne 2010.


Invasion Of The Penguins

Di tahun 2010, film pendek karya studio kecil saya, Moxie Indonesia yang berjudul ‘Little Tree Little Me’ mendapatkan Special Jury Award dalam Hellofest Vol.7 Motion Picture Arts Festival. Karya ini juga sempat diputar dalam beberapa event lokal seperti Europe On Screen 2010, Kumpul Animasi 2010, dan event internasional seperti di Chiang Mai, Doi Saket International Film Festival, di Thailand.

Di tahun 2010 terpilih untuk melakukan riset animasi stopmotion melalui program Jenesys dari Japan Foundation Jakarta dan Tokyo. Bertempat di Osaka Electro-Communication University selama tiga bulan di Osaka dan Tokyo melakukan riset, kunjungan studio dan berproduksi bersama pembimbing saya di sana, melahirkan karya animasi ‘Balloons’.

Mendapatkan Piala Citra Festival Film Indonesia 2011, penghargaan khusus dewan juri film pendek untuk animasi pendek anak yang inspiratif, ‘Balloons’.

Awalnya menyenangi animasi itu kapan dan bagaimana?
Sedari kecil saya sudah senang dengan film kartun, definisi film animasi yang kita kenal masa anak-anak. Contohnya si Huma yang saya sempat mengingat sedikit visualnya (wah, tuir ternyata :D), terus masa-masa 80-an dari TMNT, He-Man, hingga yang Jepang macam Voltus V, dsb. Tapi yang lekat ya Si Unyil sebetulnya, walaupun ia bukan animasi tapi kadang selalu menanti-nanti edisi cerita yang melibatkan potongan animasi Pak Suyadi (Pak Raden), walau ternyata cuma satu episode yang bercerita tentang Timun Mas, itu pun kalo saya tidak salah ingat.

Dari sana lahirlah minat saya untuk menggambar. Belajar dari orangtua juga guru, dan didukung untuk partisipasi lomba-lomba di sekolah. Cita-cita pun sudah terbentuk hingga lulus SMA, menjadi desainer grafis atau apapun yang berhubungan dengan visual. Tapi ternyata jalan saya tidak kesana, keinginan untuk menimba ilmu di ITB saya minggirkan ketika mengetahui bahwa saya buta warna parsial. Jadilah saya lompat jalur ke jurusan lain di Unpad, Ilmu Hubungan Internasional.

Tapi nyatanya, kegiatan saya pun tidak jauh dari visual. Semasa kuliah pun berkarya menghasilkan komik-komik independen dan bekerja menjadi ilustrator di majalah MTV Trax/ Trax Magazine, membuat cerita dan komik Tee and The Traxhead selama lima tahun di sana. Selepas kuliah pun dengan nekat saya pindahkan lagi jalur kerja saya dari yang mainstream (pegawai bank swasta) ke jalur yang menurut orang lain gelap tapi menurut saya sama menjanjikan; animasi.

Diawali dari belajar di Hellomotion dan mengenal Wahyu Aditya, saya pun bergabung dengan tim produksinya selama satu tahun hingga akhirnya saya memutuskan untuk berdiri dengan kaki sendiri dan memulai studio kecil saya sendiri hingga sekarang.

Diantara beberapa teknik animasi seperti 2D dan 3D, kenapa memilih teknik stop motion?
Sebetulnya awalnya saya tertarik mempelajari 2D hingga pun akhirnya saya tersihir dengan stopmotion. Sifat organiknya ternyata membawa saya nostalgia ke masa kecil ketika melihat filmfilm animasi yang entah judulnya apa, terbuat dari semacam boneka dan bisa bergerak sendiri.

Ketika belajar di Hellomotion pun tugas film pendek saya pilih menggunakan teknik Stopmotion, dengan ditambah pemahaman bahwa jika ingin mewujudkan ide gila dengan teknik mendasar dan biaya yang murah meriah maka stopmotion adalah pilihan yang tepat. Maka lahirlah animasi pertama saya ‘Help!’ yang dibuat dengan papan tulis pinjaman, kamera pinjaman, dan sekotak kapur seharga 15,000 rupiah. Lebih cepat, murah dan liar.

Seiring waktu dan ilmu yang dipelajari baik otodidak ataupun dari lingkungan, berkembanglah opini pribadi bahwa saya ingin memperkenalkan animasi ke masyarakat mulai dari hal yang paling sederhana, membuat animasi itu bisa murah dan mudah, salah satunya dengan teknik stopmotion. Maka saya kumpulkan kawan-kawan yang satu minat dan mulai berkarya dan berbagi dalam berbagai workshop.

Saya juga tularkan ide untuk yang mencoba mempelajari animasi, pelajari juga jenis animasi 2D, prinsip-prinsipnya akan sangat membantu pemahaman akan gerak. Animasi bukan hanya 3D komputer. Walau animasi adalah produk berbiaya tinggi tapi dalam proses penciptaan karya bisa melalui jalur do-ityourself seperti penggunaan teknik stopmotion yang bisa memanfaatkan bermacam objek untuk digerakkan, plus kamera dan pemahaman tentang cahaya, maka tidak ada yang bisa menghentikan ide cerita anda menjadi karya visual bergerak yang menakjubkan.


Suasana Studio pembuatan film stop motion

Keterampilan apa yang dibutuhkan untuk membuat animasi stop motion, apakah harus bisa sculpting menggunakan clay, membuat model / miniatur, dll?
Mungkin dasarnya adalah ide bahwa dengan cara do-it-yourself, maka benda apapun bisa dimanfaatkan untuk menjadi karya. Keterampilan pun sangat perlu diasah sesuai keinginan dan kebutuhan dari karya tersebut. Bila ingin membuat puppet stopmotion, akan sangat baik bila sudah memiliki pemahaman akan bentuk tanpa harus pandai sculpting.

Bila ingin memanfaatkan clay, plastisin atau bahan lain sejenisnya maka keahlian sculpting akan sangat menunjang. Bila tidak pun tak jadi soal, kita masih bisa memanfaatkan objek lain untuk kita jadikan model tanpa harus scuplting, misal, kertas, karton, kayu, kaleng, kawat, gabus, mainan bekas dan lain sebagainya.

Dibanding animasi 2D & 3D, bagaimana kans nya teknik stop motion di industri animasi tanah air? 
Untuk stopmotion di Indonesia sendiri sepertinya belum ada produser atau tim produksi yang memulai untuk mewarnai industri animasi lokal. Walau sebetulnya kami pun siap melangkah sejajar dengan tingkat produksi 2D dan 3D yang sudah banyak dilakoni di tanah air.

Saya sendiri pun masih dalam tahap diskusi dan perencanaan dengan seorang produser untuk menuju ke sana. Bicara kesempatan mungkin berkaitan langsung dengan tingkat minat dan pengetahuan masyarakat terhadap bendanya.

Bila dikatakan stopmotion/puppet stopmotion sangat asing di mata masyarakat juga tidak sepenuhnya benar. Saat ini pemahaman 2D adalah film kartun, 3D adalah animasi, dan stopmo adalah Shaun The Sheep masih banyak dijumpai di masyarakat Indonesia yang menjadi konsumen visual. Maka pendidikan akan pemahaman apa itu animasi menjadi faktor juga dalam daya tangkap dan daya beli masyarakat. Walau pada akhirnya sebetulnya dalam produk final tidak lagi menjadi soal teknik apa yang digunakan, melainkan sebagus apa cerita dan visual yang ditawarkan ke masyarakat.

Jadi, saya pribadi memandang bahwa animasi jenis apapun secara daya beli masyarakat mempunyai kans yang sama besarnya seiring berkembangnya akses informasi dan pengetahuan dewasa ini. Walau secara produksi ditemukan beragam kesulitan yang berbedabeda untuk tiap teknik yang digunakan tapi kembali lagi ke tingkat pemahaman jenis dan teknik animasi di mata masyarakat baik masyarakat produsen atau konsumen. Secara industri pun diharapkan stopmotion bisa mulai dikenali, didalami dan dimulai untuk produksi yang berkesinambungan di hari depannya.

Kembali ke cerita tentang riset animasi stopmotion melalui program Jenesys dari Japan Foundation Jakarta dan Tokyo, Kok bisa dapet program itu? Apa saja hasil yang bisa diceritakan pada praktisi animasi di indonesia?
Untuk program Jenesys dari JF, alhamdulillah saya dapat informasi ketika pembukaan pendaftaran seleksi peserta grand. Jenesys adalah program pertukaran budaya antar praktisi seni, seniman atau bidang lain macam sosial budaya. Dapat dipergunakan untuk keperluan riset atau studi banding bagi siapapun di bidangnya bergantung kepada area perhatian Jenesys pada tahun tersebut.

Kebetulan pada tahun 2010 Jenesys membuka pintu untuk program animasi yang bekerja sama dengan institusi yang ditunjuk. Karena fokus perhatian saya adalah mendalami pembuatan armature dalam puppet stopmotion dan studi banding studio/penggiat animasi stopmotion di sana, maka secara kelembagaan saya ditempatkan untuk riset di Osaka Electro- Communication University selama dua bulan, ditambah satu bulan untuk kunjungan ke beberapa studio dan seniman animasi stopmotion di Tokyo dan Osaka.

Banyak hal yang dapat diceritakan dari hasil kunjungan dan riset di sana, mulai dari segi teknis pembuatan armature yang berkaitan dengan budaya do-it-yourself yang mengakar di Jepang dan atmosfir produksi rumah produksi animasi stopmotion dengan kru yang berpengalaman. Uniknya pada tahun tersebut dari hasil diskusi dan tukar pengalaman, ternyata industri animasi di Jepang juga sedang dalam masa yang kurang menguntungkan. Akibat faktor perekonomian dan khususnya faktor persaingan yang begitu tinggi di kalangan studio maupun penggiat animasi di Jepang.

Jumlah kru juga sangat efisien, karena masingmasing individu mempunyai keahlian yang tinggi di bidangnya, dibarengi dengan karakter disiplin yang tinggi membuat suasana produksi yang efektif, efisien dan kondusif. Kebutuhan akan alat pun disesuaikan, misalnya; satu studio animasi stopmotion yang bekerjasama dengan Google, yaitu Pantograph, dengan tiga orang kru-nya, mengolah bahan-bahan bekas, seperti paralon, kayu dan botol minuman menjadi banyak objek miniatur dan modeling yang menarik.

Di banyak kalangan penggiat stopmotion puppet di Jepang penggunaan plastisin atau clay tidak terlalu populer karena sifat bahannya yang mudah rusak dan sulit dikendalikan. Maka muncullah bahan subtitusi seperti penggunaan kayu, kain, kertas hingga molding plastik agar lebih mudah dikendalikan dan tahan lama.

Kondisi penggiat stopmotion di Jepang yang terbilang langka juga menyebabkan spesialisasi, seperti misalnya, menurut salah satu animator di sana, pengrajin yang khusus membuat armature secara profesional hanya ada sekitar tujuh orang di seluruh Jepang, dengan harga yang tidak murah tentunya, karena semuanya dibuat dengan tangan. Untuk area produksi, studio spesialis stopmotion juga bersaing dengan studio lain yang mengedepankan CGI.

Hampir serupa dengan di Indonesia, peminat animasi stopmotion dan eksperimental sangat tinggi datang dari dunia periklanan. Walau juga tidak menutup celah untuk siar secara serial di televisi nasional Jepang yang memiliki beberapa macam acara televisi yang menyediakan jam tayang khusus untuk animasi.

Bisa lebih jelas tentang armature? Kenapa mendalami itu?
Istilah-istilah dalam teknik stopmotion mungkin ada sedikit perbedaan dengan istilah dalam 3D komputer. Armature adalah tulang atau kerangka. Dibuat untuk kemudahan gerak dari model yang dibuat dengan bahan apapun yang nanti akan membungkusnya.

Ada banyak pilihan membuat armature, dari pilinan kawat sederhana sampai ball-jointed armature. Semuanya bisa dibuat secara handmade atau dipesan secara online untuk bentukbentuk yang umum atau custom di beberapa toko animasi stopmotion online.

Kebetulan yang saya pelajari di Jepang adalah ball-jointed armature dari bahan besi-baja yang juga dibangun secara hand-made. Rigging juga acap digunakan untuk menyebut support atau pegangan bagi model supaya dapat berdiri tegak atau lainnya.

Kalau sebelumnya dibilang kans animasi stop motion belum mewarnai industri animasi Indonesia, lantas bagaimana Anda membuat dapur tetap ngebul alias memberi maka keluarga? Anda sudah bekeluarga kah?
Nah, ini yang tricky untuk dijalani :). Selama ini kebetulan saya memiliki studio kecil dengan jumlah kru yang disesuaikan dengan kebutuhan produksi mengerjakan kerja dari klien baik yang animasi maupun non animasi, stopmotion atau non stopmotion.

Secara hasil memang belum memuaskan karena masih banyak yang perlu dipelajari, tidak hanya dari segi produksi tapi juga dari segi manajerial dan keuangan yang selalu menjadi penjegal proses berkembang kami. Tapi alhamdulillah selalu ada kesempatan untuk belajar dan berkembang. Setahun terakhir, studio kecil ini saya vakumkan sementara, karena rumah saya pribadi yang sebelumnya dimanfaatkan untuk kegiatan produksi dan berkomunitas saya alihfungsikan kembali menjadi rumah keluarga sejak saya menikah. Sejak itu urusan dapur ngebul memang selalu menjadi tanda tanya besar, karena niatan saya memajukan dan memperkenalkan animasi stopmotion sendiri bukan tanpa biaya.

Jadi seringkali pengetahuan stopmotion yang dimiliki saya manfaatkan untuk membantu pengerjaan iklan komersial, mengisi berbagai acara workshop, mengajar dasar-dasar animasi, dan lain-lain kegiatan yang sekiranya memantapkan jalan menuju terbentuknya tim kecil yang efektif dan pihak-pihak yang tertarik untuk memulai produksi animasi dengan teknik unik dan pastinya sangat menarik ini.

Kembali ke teknik stop motion, yang ada dalam pikiran saya adalah betapa melelahkannya teknik animasi seperti ini, karena harus mengatur obyek sedikit, lalu foto, atur lagi, foto lagi, dst. Kira-kira berapa lama proses pembuatan untuk film ‘Help!’ dan film ‘Balloons’?
Kalau bicara melelahkan sebetulnya sama saja untuk semua pengerjaan produk animasi. Masing-masing punya tingkat kesulitan dan kemudahan tersendiri. Bergantung dari passion orang yang mengerjakan sebetulnya. Kesulitan menggambar manual per lembar untuk animasi 2D dapat dirasa menyulitkan untuk banyak orang, kesulitan membangun model dan menganimate character secara 3D juga tidak sembarang orang yang bisa mengkontrolnya, juga kelelahan menggerakkan satu persatu objek dalam stopmotion pastinya dianggap brutal untuk banyak orang :).

Tapi semua itu kembali lagi ke perencanaan, ke kertas awal, penulisan cerita dan storyboard. Maka biasanya dalam proses pra produksi dari stopmotion memang memakan waktu lama, sehingga sudah benar-benar sangat matang ketika mulai shoot gambar.

Sebagai perbandingan, film Help! saya buat tanpa perencanaan di atas kertas. Semua ada di kepala, masih belajar menterjemahkan ide secara straight ahead, not knowing what would happen next. Hasilnya adalah film pendek berdurasi 42 detik yang menghabiskan waktu satu malam sendirian dengan bantuan jepret gambar beberapa tangan dari adik saya. Total gambarnya sekitar 144 gambar spontan kapur di atas papan tulis dengan menggunakan kamera poket biasa.

Untuk Balloons, saya awali dengan pra produksi yang cukup lama. Kira-kira satu bulan untuk pengerjaan ide cerita, board, membuat model dan desain set-nya. Pembuatan ini lebih banyak dikerjakan sendiri dengan banyak konsultasi kepada Profesor 3D/Puppet stopmo di sana, Prof. Kazuhiro Ueda. Bersama beliau pula saya melakukan proses shooting setelahnya. Waktu pengambilan gambarnya sendiri memakan waktu sekitar 70 jam atau 2 minggu dengan waktu yang cukup singkat setiap harinya, sebanyak 2,333 gambar yang menghasilkan film dengan durasi sekitar 4 menit tanpa credit dan judul.

Selain dari sisi kesabaran dan ketelitian, kirakira apa lagi hal yang bisa dibilang menjadi faktor kesulitan?
Sejauh yang saya tahu, ada dua macam pekarya animasi stopmotion; yang menghabiskan waktu lebih untuk menyempurnakan pra produksi dan produksinya secara non digital sehingga meminimalisir bantuan software komputer di proses editing, dan yang membuat mudah proses dengan mencampur/mixed proses yang handmade tadi dengan kekuatan digital.

Keduanya tidak masalah karena memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Kesulitan dalam proses dapat dikurangi dengan persiapan yang matang. Kesabaran dan disiplin yang tinggi juga dibutuhkan untuk menghemat waktu produksi dan biaya. Kesulitan lain yang saya alami saat ini adalah ketika semua kamera menjadi uzur dan rusak, tidak ada alat untuk mengambil gambar, maka saya kembali ke buku sketsa, menulis ide cerita dan perencanaan untuk produksi-produkasi berikutnya :D.

Dari sisi spek yang diperlukan, apa saja yang dibutuhkan? Apa ada kamera khusus? Kebetulan kan kalo teknik stopmotion tak memerlukan mesin yang high end seperti halnya render di teknik 3D, benar begitu?
Untuk karya eksperimental, tidak ada batasan dalam penggunaan jenis kamera yang hendak digunakan. Mulai dari kamera handphone hingga kamera profesional dapat digunakan. Tapi jika berurusan dengan skala produksi yang lebih besar, misalnya untuk keperluan film serial, atau layar lebar, atau mungkin film pendek dengan ide yang tak kalah gilanya, maka diperlukan beragam alat yang juga tidak murah.

Mulai dari kamera untuk meng-capture objek, peralatan hardware komputer, lighting equipment, bermacam rigging dan rangka, keperluan software pendukung dan tidak ketinggalan bermacam alat dan material untuk pembuatan model. Untuk Balloons, saya menggunakan Canon EOS 50D, seperangkat lighting equipment, rigging dan beberapa tripod, laptop, dan software Dragon Stopmotion.

Untuk rendering, ya benar bahwa keperluannya tidak se-high-end mesin render untuk animasi komputer lain. Kecuali jika tampilan visual hasil dari jepretan foto ingin diretouch lagi dan dipoles dengan bantuan animasi komputer.

Sekarang ini di TV nasional sudah mulai ramai dengan film animasi dari luar, seperti Ipin- Upin, Shaun the Sheep, dll, pendapat Anda tentang serbuan film animasi dari luar itu?
Menurut saya, datangnya produk animasi dari luar membawa beragam pengaruh, baik yang positif atau negatif, bisa mencerdaskan sekaligus dapat menjerumuskan kita menjadi konsumtif bergantung kepada kuasa media yang menayangkannya. Positifnya adalah semua produk tersebut bisa dijadikan bahan referensi yang sangat baik sekali, bisa menjadi pintu informasi lapangan kerja global, dan juga bisa menjadi pintu knowledge baru terutama bila secara konten sangat mendidik dan menjadi panutan yang positif.

Akan menjadi negatif bila tidak ada penyeimbang dari produk lokal, akan terbentuk ketidaktahuan yang sangat dari masyarakat akan kemampuan pekarya lokal, dan berkaitan dengan angka dan biaya beli/jual produk animasi yang didistribusikan secara global dapat menjadi indikator yang tidak seimbang untuk memojokkan produk lokal yang terkesan berbiaya sangat mahal dan tidak masuk akal bila dibandingkan dengan harga beli produk luar.

Apa kendala yang membuat kita tak bisa memproduksi film animasi sendiri?
Setahu saya sebetulnya sudah banyak anak bangsa yang menghasilkan karya animasi serial baik untuk konsumsi TV lokal maupun nasional. Saya sendiri belum pernah terlibat dalam industri animasi serial, jadi informasi yang saya terima adalah sejauh yang saya pelajari dari kawan dan berita. Menurut saya kendala bisa muncul di berbagai level.

Bila disebut bahwa kendala datang dari ketersediaan tenaga dan sdm, saya rasa juga tidak sepenuhnya benar, karena saya percaya bahwa banyak sekolah animasi, SMK animasi, jurusan animasi di universitas, lulusan luar negeri yang kembali ke Indonesia, dan mereka yang belajar otodidak, akan membuka tangan lebar-lebar untuk kesempatan produksi animasi serial maupun layar lebar.

Lalu ada kendala kekuatan bercerita, saya rasa mungkin akan lebih baik lagi bila selama ini pendidikan animasi tidak hanya sekedar teknis software dan hardware saja, tapi juga merambah ke area penulisan cerita supaya dapat menghasilkan karya cerita yang baik.

Kendala lain yang sering dibicarakan mungkin adalah biaya dan budgeting. Animasi serial yang membutuhkan sumber daya, tenaga dan waktu yang tidak sedikit juga seringkali berbanding lurus dengan kebutuhan biaya yang cukup tinggi, bergantung kepada seberapa jauh kualitas animasi yang diinginkan. Pentingnya pendidikan dan penyebaran informasi mengenai dunia animasi juga patut dipertimbangkan untuk menyamakan pikiran baik pekarya, pemodal dan masyarakat bahwa animasi selain dapat diposisikan sebagai karya seni juga dapat menjadi produk industri yang bernilai tinggi.

Ada rencana untuk bikin film serial seperti itu?
Pastinya ada, dan sangat berniat sekali. Ada rencana yang sedang dijalankan dan terbuka untuk dibicarakan dengan siapapun yang berminat. Saat ini sudah ada beberapa pihak yang mengajak diskusi untuk kemungkinan kerjasama pembuatan serial animasi dengan teknik puppet stopmotion.

Minimnya referensi untuk pra produksi serial animasi dengan teknik ini membuat perlunya waktu lebih banyak untuk duduk bersama merundingkan segala kemungkinan, baik dari skala kerja hingga budgeting. Semoga saja diberikan waktu dan kesempatan terbaik untuk menghasilkan karya terbaik di depan.

Pesan-pesan untuk orang yang mau mulai berkecimpung di dunia animasi?
Bersabar. Mungkin itu mengkover semua wacana, mulai dari belajar mendalaminya hingga ke tingkat menjual karyanya. Tapi percayalah, belajar ber-animasi bukan tanpa hasil. Banyak pilihan ketika kita mulai belajar apa itu animasi, karena dunia industrinya membuka pintu untuk beragam kemungkinan profesi di dunia animasi, entah ia 2D, 3D atau teknik-teknik yang lain. Entah yang berkaitan langsung dengan kerja animasi atau kerja yang mendukungnya seperti penulisan cerita, directing, atau membuat musik.

Jangan lupa bahwa kita diuntungkan di era informasi ini, sangat mudah mendapatkan tutorial dan sharing ilmu dari forum-forum internet, dari profesional-profesional lain di bidangnya, dari jalur non formal atau yang formal. Selamat datang di dunia animasi! Dunia imajinasi tanpa batas.***

Artikel dan interview oleh: Fitra Sunandar
(Dilarang menyadur/mengutip/mempublikasi ulang tanpa mencantumkan sumber dan nama penulis)

Post a Comment

0 Comments