JAMES ASHBURN - Director

KEAHLIANNYA membuat commercial film (iklan) membuat namanya dikenal luas kalangan industri periklanan. Tidak terhitung karya yang lahir dari tangan James Ashburn. Canon, Nokia, Nissan, Singtel, Motorola, Maxis, Citibank, Gudang Garam, dan Coca Cola adalah sebagian brand besar dunia yang iklannya pernah digarap pria kelahiran 1964 ini.

James Ashburn

Kekuatan karya James terletak pada penggarapan di tahap post production. Kalangan industri produksi menyebutnya dengan istilah heavy-post production. Dari segi visual, James memadukan gambar 2 dimensi, terkadang dengan still photo dengan high resolution, dengan effect 3 dimensi. Hasil compositing ini menciptakan sebuah harmoni yang indah dan menakjubkan, berkat pergerakan kamera 3 dimensi yang dramatis, yang mustahil diperoleh lewat live shot.

Walaupun James banyak bermain dengan effect 3 dimensi, secara keseluruhan visual yang tampil masih berada pada tataran masuk di akal. Jadi, bukannya visual seperti film kartun, yang membawa penonton ke “dunia langit”. Unsur audio pada karya James, sangat membantu komunikasi dan kontinuitas visual. Pesan‑pesan disampaikan secara efektif, pada scene yang tepat, dan in-line dengan keberlanjutan visual.

Materi visual dan audio dipersiapkan secara matang di tahap produksi. Tidak akan ada karya heavy post yang bisa berdiri sendiri tanpa dukungan materi lewat live shooting. Di sinilah kunci keberhasilan James. Pria yang lahir dan dibesarkan di Australia ini mengerjakan sendiri konsep eksekusi iklannya. Mulai dari penerjemahan storyboard kepada tahap eksekusi, properti yang dibutuhkan, lokasi yang ideal, konsep lighting, angle kamera, set up lokasi, wardrobe, dan sebagainya.

Pria humble ini sangat disiplin dengan konsep yang telah disepakati dengan pihak creative di agency. Proses shooting berjalan efisien. “Just do the best that you can and give 110% to every job,” katanya.

Dari beberapa produksi yang dikomandoi James, tertihat jelas director ini bekerja dengan rapi, konsentrasinya tertuang habis pada proses pengambilan gambar, pilihan-pilihan angle sinematografinya selalu unik. Crew yang bekerja dengannya tidak perlu stress karena James tidak neko- neko. Bahkan, untuk urusan makan pun, James enjoy saja menyantap nasi uduk atau masakan padang. Pria ramah ini ibarat padi, semakin berisi memang semakin menunduk.

Perjalanan hidup James memang sejak dini sudah bersentuhan akrab dengan dunia fotografi. James kecil sangat takjub pada keindahan alam anugerah Tuhan. Tangannya selalu gatal, ingin mengabadikan keindahan itu. Peran ayah sangat besar dalam membimbing James mengenal dunia fotografi. Maklum, sang ayah, James Strain memang seorang photografer profesional. Mereka sering hunting foto berdua. “My father was a photographer and since young I knew I would be going into a visual area either stills or motion, but motion became my passion,” ungkap pria bernama lengkap James Thomas Ashburn ini.

Kecintaan terhadap fotografi terus dipupuknya. Sejak umur belasan tahun, James sudah membulatkan tekadnya untuk berkarir di dunia fotografi. “Seeing my father’s passion for photography, I hope has instilled a love of photography and the visual aspects of our work,” paparnya. Tamat SMA (Senior high school), James sudah menguasai teknik fotografi dan berhasil mengembangkan angle unik pada setiap jepretannya. Beberapa tahun berselang, James memasuki dunia industri post production. Pertama bekerja, James bekerja sebagai tape operator di sebuah perusahaan post di Sydney, VTC Post Production (sekarang perusahaan ini dimiliki Digital Pictures).

Untuk memperdalam ilmu, pada tahun 1979, James kuliah di jurusan Television Operations di North Sydney Technical College. Tamat kuliah, James sudah menguasai teknik off-line editing. Berkat keahlian itu, ia kemudian bergabung ke ColourWorks, tak lama, lalu pindah ke AAV. Nah, saat ia bergabung di AAV Melbourne inilah karir James mulai menanjak. Dalam dua tahun, ia sudah berhasil menggapai posisi Chief Editor.

Pada tahun 1985, sebuah tawaran menarik datang dari VHQ, perusahaan post production yang baru berdiri di Singapura. Praktis, semua operasional VHQ dikendalikan oleh James yang menjabat sebagai Operation Manager dan Senior Editor di situ. Selama sembilan tahun di VHQ Singapura, berbagai prestasi berhasil ditoreh James. la mendapatkan penghargaan dari The 4A’s Creative Circle, 6A’s Malaysia. Salah satu commercial film yang ia garap, The Tiger Beer, menggodol award di London International Ad Festival.

Matang di editing, James merambah dunia directing. Commercial film pertamanya adalah iklan rokok Salem, yang ia garap di New Zealand. Sukses dengan iklan ini, nama James melambung di kawasan pasifik sebagai director iklan dengan karakter khas, heavy post. Apalagi sejak berhasil meraih FACT Award di Australia. Kemudian, sejak bekerja di VHQ, James menjadi incaran production house Asia Tenggara, khususnya Malaysia, Singapura, Indonesia.

Kiprahnya di Indonesia dimulai pada 12 tahun lalu. Hingga saat ini James sudah menggarap banyak iklan yang tayang di jaringan televisi tanah air. James berharap dapat melahirkan iklan-iklan kualitas tinggi. “It’s a very interesting job and you feel very blessed, constantly having the opportunity to go and see some of the most beautiful parts of the world and meet great people all while working. What more could you ask for,” katanya.

Berikut adalah tambahan interview singkat dengan James Ashburn berkaitan dengan studio CG di tanah air.

How often do you work with local post houses? 
Lots. The current market is full of efficient, good and highly talented post houses. So it is great to support them and great the work is of such high standard. The technology is world class and our ability to maximise this technolgy is getting better and better.

What do you think about their quality? 
Good. Of course being a relatively young industry, we can all improve. But the general quality is of world standard and getting better all the time.

How about 3D/VFX, how often do you use CGI on your TVC? 
Most of my work contains some CG or VFX. The local CG shops are doing some great work. Three of my last four tvcs have involved local CG companies and they have done some great work turning it around quickly and efficiently. Also one involved a car which they completely modelled and built with great speed and a wonderful level of realism. The quality of CG is increasing very fast and our knowledge of how to use it effectively and efficiently is also developing. The whole mind set has now changed and CG is no longer a tough a sell to agency and clients as it was before. The more jobs we do the more understanding and experience we get. Fluid dynamics is one area we need to develop more but that is really just about doing more and more jobs using the technology and developing our skills.***

Artikel dan interview oleh: Wiwie Uminarsih & Fitra Sunandar
(Dilarang menyadur/mengutip/mempublikasi ulang tanpa mencantumkan sumber dan nama penulis)

Post a Comment

0 Comments