Proses Produksi Film Chappie


Membuat robot dengan kecerdasan artifisial memang merupakan cita-cita manusia yang tak pernah berhenti untuk bisa diwujudkan. Dengan alasan atau kepentingan apapun. Robot dengan kederdasan artificial seperti itu tentu akan sangat berguna.

Chappie; Robot juga punya perasaan.

Begitu pula dengan Chappie, sebuah robot yang awalnya hanya bergerak berdasarkan program, tiba-tiba bisa berfikir dan memiliki emosi layaknya manusia.

Aslinya, Chappie adalah robot polisi dengan nama sandi Scout yang bertugas menjaga keaman di Johannesburg, Africa Selatan. Ada banyak Scout yang di fungsikan di kota tersebut, seringkali mereka harus berhadapan dengan penjahat paling ganas dengan beragam senjata yang mereka miliki. Karena sebuah proses eksperimental – yang terasa terlalu sederhana – salah satu Scout yang tadinya rusak bisa berfungsi kembali, malah dengan suatu kelebihan yang membedakannya dengan Scout yang lain, ia memiliki Emosi.



Awalnya untuk menggambarkan emosi tersebut dipasangkan layer LCD sebagai pengganti wajah Chappie, yang nantinya bisa memunculkan emoticon sebagai representasi rasa gimbira atau pun rasa sedih. Namun rancangan itu berubah dengan semacam topeng yang menggantikan fungsi mata. ditambahkan pula palang besi di atas dan di bawah mata serta sepasang telinga yang bisa bergerak untuk melengkapi.

Semua rancangan tersebut dilakukan bersama antara Weta Workshop dengan Image Engine studio. Awalnya Weta mengirimkan rancangan robot-robot tersebut kepada Image Engine, yang kemudian dijadikan 3D modelnya. Setelah 3D modelnya selesai kemudian dikirimkan lagi ke Weta untuk dibuat model seukuran aslinya.

Gerakan Chappie yang sangat flexible dibuat berdasarkan pergerakan aktor bernama Sharlto Copley. Ia berakting sebagai Chappie dengan menggunakan kostum warna abu-abu dengan tracking marker yang nantinya dijadikan acuan oleh animator di Image Engine Studio untuk membuat gerakan Chappie secara manual.

Weta Workshop menambahkan beberapa buah kotak di dada Copley agar ia bisa memperkirakan gerakan mana yang sesuai untuk Chappie nantinya. Selain itu juga berfungsi sebagai pembatas apabila ada adegan actor lain yang memeluknya, hingga volume tubuh Chappie bisa disimulasikan dengan tepat.

Hampir semua bagian dari model Chappie tersebut dibuat menggunakan 3D printer yang dibuat secara khusus oleh Weta, namun beberapa merk printer lainnya tetap digunakan seperti Eden dan ProJet untuk membuat bagian-bagian yang kecil. Akhirnya Weta membuat 19 buat Scout atau Chappie dengan beberapa variasi dan tampilan yang berbeda.

Chappie mengalami beberapa tindakan kekerasan terhadap dirinya, mulai dihantam roket RPG, dibakar, sampai dipotong tangannya, membuat Chappie mengalami beberapa proses perubahan bentuk dengan tingkat kerusakan yang berbeda.

Konsekwensinya, Image Engine harus mencermati setiap perubahan tersebut dan menyiapkan kondisi Chappie untuk keperluan yang berbeda. Dari satu buah master asset berbentuk Scout yang dibuat menggunakan Autodesk Maya, variasi dan tingkat kerusakan dari asset lainnya - seperti tangan, dada, kepala, atau bagian lainnya - bisa ditukar-tukar hingga totalnya bisa membuat 17 buah variasi model
Pertukaran asset tersebut tak akan menghambat proses animasi dan pencahayaannya. Tergantung tingkat kerusakan yang dialami Chappie, saat scene-nya mulai dikerjakan, maka aplikasi Shotgun akan memprosesnya dan me-loading versi Chappie yang mana yang sesuai untuk scene tersebut. Asset-asset tersebut akan di-setup dengan tepat oleh Shotgun dan Maya.

Selain robot Scout yang banyak muncul di film ini, ada satu robot lainnya yang lebih besar, dilengkapi banyak persenjataan, bernama Moose. Namun bentuknya yang terlalu besar tersebut membuatnya kalah populer dari Scout.

Untuk pembuatan robot Moose ini Weta Workshop mendapat banyak rujukan dari sang sutradaranya sendiri, Neill Blomkamp, yang tak hanya memberinya coretan tangan, melainkan hasil render 3D karyanya sendiri. Status sebagai 3D modeler adalah awal karir Blomkamp di dunia VFX.

3D Model Chappie

Berbeda dengan proses pembuatan model robot Scout yang menggunakan 3D printing, robot Moose dirakit dari sekitar 10.000 bagian yang berbeda. Banyak dari bagian tersebut yang dibuat menggunakan proses molding dan casting, yang sebagian besarnya dibuat menggunaklan material urethane. Bahkan beberapa bagian ditambahkan juga aluminium dan baja hingga saat adegan dengan ledakan besar, kondisi Moose akan tetap kuat dan tahan benturan.

Tapi ternyata, di balik tampang sangar dan perawakannya yang gagah, ada bagian dari Moose yang sangat rapuh. Tak semua bagian bisa dibuat menggunakan urethane atau bahan logam. Dan biasanya justru di situ nilai seni tersendiri dari proses crafting. Kita harus jeli melihat barang-barang di sekitar kita untuk kita manfaatkan sebagai penunjang kreativitas. Pada bagian mesin, tepatnya pada elemen pendingin, ada bagian yang dibuat menggunakan semacam mie instan yang dicat dengan warna hitam dan perak, kemudian diletakkan tepat ditengah komponen lain yang terbuat dari logam, yang keberadaannya memang tak bisa terlihat dengan jelas.***

Artikel oleh: Fitra Sunandar
Diolah dari berbagai sumber. Productions stills and visual effects images courtesy of Columbia Pictures.
(Dilarang menyadur/mengutip/mempublikasi ulang tanpa mencantumkan sumber dan nama penulis)

Post a Comment

0 Comments