Proses Produksi Film Dead Pool

Dead Pool merupakan film layar lebar pertama bagi Tim Miller sebagai sutradara. Sebelumnnya ia lebih dikenal sebagai CG artist dan salah satu pendiri studio animasi Blur.

Pengalamannya sebagai sutradara di film animasi memang memberinya dasar untuk menyutradarai film live shoot, namun ia mengaku masih bingung soal pengaturan kamera.

Ryan Reynolds sebagai Dead Pool

Bila dalam film animasi, Tim Miller bisa bebas menaruh kamera dimana saja, selama apa pun yang ia butuhkan, dan bisa kapan saja kembali ke adegan tersebut untuk mengatur opsi pengambilan gambar lainnya.

Tidak demikian halnya dalam membuat film live action. Penempatan kamera, untuk waktu berapa lama, harus diperhitungkan dari awal karena hal tersebut menyangkut crew lainnya, biaya dan jadwal yang sudah ditetapkan.

Film Dead Pool berbeda dengan film superhero lainnya, Dead Pool juga bukan jagoan biasa. Maka cara memperkenalkannya pun harus dengan cara yang tak biasa, hingga Tim Miller akhirnya memutuskan membuat 80 detik lebih opening dengan cara yang tidak biasa berupa freeze frame dengan tulisan-tulisan konyol semacam “Produced by asshats” dan “Directed by an overpaid tool”.
Opening credit dikerjakan oleh Blur Studio, diawali dengan membuat pre visnya terlebih dahulu sebelum membuat full CG opening title tersebut.



Untuk asset 3D-nya, Blur mendapat bantuan dari Atomic Fiction yang juga bertugas membuat scene perkelahian di jalan.

Namun karena dalam opening title itu banyak camera close up, maka asset yang didapat dari Atomic Fiction harus di up-res terlebih dahulu.

Atomic dan Blur menggunakan pipeline yang berbeda, jadi Blur harus mengubah asset-asset tersebut terlebih dahulu agar bisa digunakan dalam 3DS Max dan dirender menggunakan VRay, yang hasilnya dicompose menggunakan Nuke.

Dengan banyaknya studio yang terlibat, maka proses tukar menukar asset 3D akan banyak dilakukan, dan untuk proses sharing asset  tersebut digunakan The Foundry Katana.

Untuk adegan perkelahian di jalan raya, Atomic Fiction membangun environtment dengan memadukan tiga buah tampilan kota yang berbeda.

Hal ini dilakukan agar penonton tak hanya melihat pemandangan yang sama dalam empat menit adegan tersebut.

Kombinasi tampilan tiga kota tersebut terdiri dari Detroit sebagai tampilan kota industrial, Chicago untuk  penampakan kota tua dengan arsitektur tahun 30-50an dan tampilan modern dengan gedung-gedung kaca mengambil referensi dari suasana di Vancouver.

Asset 3D bangunan-bangunan tersebut dibuat dalam 12 bagian, yang penggunaannya disesuaikan dengan adegan yang ditampilkan.

Selain Dead Pool, ada Karakter unik lainnya dalam film ini, yaitu mutant  asal Rusia bernama Piotr Nikolaievitch Rasputin atau lebih dikenal sebagai Collosus.

Keunikannya dalah selain perawakannya yang tinggi besar, badannya juga terbuat dari metal yang sangat kuat dengan garis-garis melintang di sekujur tubuhnya.

Untuk menghidupkan karakter ini dibutuhkan kombinasi dari 4 orang berbeda. Pertama untuk membuat tampilan Collosus saat berjalan dan berkelahi, dibutuhkan seseorang yang berperawakan besar, dan masih harus ditambah penopang seperti sepatu untuk menambah tinggi lagi.

Satu orang untuk membuat gerakan menggunakan untuk motion capture, satu orang khusus untuk facial animation, dan satu lagi sebagai voice actor.

Untuk facial motion capture pada wajah Collosus, Digital Domain menggunakan technology motion capture buatan mereka yang bernama MOVA, yang dilengkapi beberapa kamera mengelilingi sekitar wajah actor.

Untuk membuat tampilan metal pada karakter ini, dibutuhkan riset khusus untuk memahami karakteristik metal.

Agar bisa dipelajari bagaimana reaksi metal terhadap panas, bagaimana membuat refleksi yang, dan bagaimana reaksi logam tersebut terhadap benturan yang menyebabkan kerusakan.
Tampilan metal yang ingin dicapai sang sutradara pada karakter ini adalah material logam yang tak terlalu chromy.

Saking ribetnya urusan shader tersebut, hingga pada adegan Collosus dalam taxi proses rendernya bisa memakan waktu sampai 24 jam per frame, padahal adegannya sendiri tampak sederhana.
Garis-garis pada badan Collosus pun butuh penanganan khusus, karena harus selalu tampak lurus, bagaimanapun pergerakan karakter tersebut.

Untuk mengakalinya, Digital Domain membuat sebuah metode menggunakan Houdini agar garis tersebut bisa dianimasikan agar tetap lurus mengikuti pergerakan tubuh.
Bagaimana menampilkan emosi di wajah pada orang yang menggunaka topeng seperti dead Pool? Tentunya butuh trik sendiri.

Untuk urusan ini giliran Weta Digital yang menanganinya, menggunakan perpaduan Maya dan Nuke untuk menghasilkan berbagai macam ekspresi pada topeng Dead Pool.

Karena ini film dengan rating R alias untuk di atas 17 tahun, maka  banyak dijumpai darah dimana mana, berikut adegan sadis yang sangat tidak cocok untuk dilihat anak-anak. Untuk urusan darah ini, Studio Rodeo FX yang menangani tampilan visual effect nya. Selain itu, studio ini juga menangani pembuatan berbagai macam api dan ledakan.***

Artikel oleh: Fitra Sunandar
Productions stills images courtesy of Twentieth Century Fox.
(Dilarang menyadur/mengutip/mempublikasi ulang tanpa mencantumkan sumber dan nama penulis)

Post a Comment

0 Comments