Proses Produksi Film Moana

Moana adalah film animasi layar lebar ke 56 yang dibuat oleh Disney, disutradarai oleh Ron Clements dan Jon Musker.

Film ini mengisahkan tentang anak wanita dari kepala suku etnis Polynesia yang terpilih untuk mengemban tugas mengembalikan sebuah batu pusaka yang hilang milik dewi Te Fiti.

Auli’I Cravalho sebagai Moana dan Dwayne ‘The Rock’ Johnson sebagai Maui

Tokoh Moana diperankan oleh seorang gadis berusia 14 tahun bernama Auli’I Cravalho sebagai pengisi suaranya. Ia berhasil terpilih dari ratusan kandidat lainnya. Sementara untuk suara Manusia Setengah Dewa bernama Maui diisi oleh pegulat terkenal Dwayne ‘The Rock’ Johnson.

Saat Cravalho diterima sebagai pengisi suara Mona, proses pembuatan desian wajah Moana sudah selesai, dan secara kebetulan ternyata fisik wajahnya mirip dengan tokoh yang akan dimainkannya.
Sehingga gerak-gerik Cravalho pun bisa dimanfaatkan sebagai acuan gerakan animasi pada tokoh Moana.



Disney Animation Studio mungkin lebih dikenal dengan para animatornya yang melegenda, tapi di komunitas computer graphic, mereka juga dikenal sebagai innovator di bidang teknis.
Tool terbaru yang dikembangkan dalam film Moana pun sekali lagi membuktikan kemampuan mereka tersebut.

80 persen dari film Moana adalah berupa effects. Set lokasinya yang berada di Polynesia menjadikan air sebagai elemen effect terbesar dari sisi waktu pengerjaan dan tingkat kesulitan.
Karakter utama dalam film ini, yaitu Moana dan Maui seringkali berada di atas perahu yang melaju di air, atau di pantai yang berdekatan dengan air, bahkan juga kadang berada dalam air.
Kondisi air dalam film ini pun sangat dinamis, penuh pergerakan, bahkan menjadi sebuah karakter tersendiri.
Perangkat terbaru yang dijuluki Splash dikembangkan untuk membuat simulasi air tersebut.

Dalam menangani pembuatan air yang diinginkan, Disney Animation Studio berdiskusi dengan dua sister company mereka, yaitu Pixar dan ILM, dan mendapatkan masukan dari kedua studio besar tersebut.
Untuk proses rendering, Disney menggunakan Hyperion yang terus dikembangkan kemampuannya sejak pertama kali digunakan dalam film Big Hero 6.

Matterhorn, yaitu graphic simulator yang digunakan untuk membuat simulasi salju dalam film Frozen, juga turut dikembangkan dalam film Mona ini untuk menangani simulasi pembuatan lumpur, buih dan pasir.
Bahkan kemampuannya lebih diperluas lagi hingga bisa menangani material yang lebih kental seperti lava dan karakter monster lahar bernama Te Ka.
Sementara untuk menangani simulasi rambut, digunakan program bernama Quicksilver untuk mengatur pose dan pergerakan rambut.

Selain penggunaan animasi 3D, Film Moana juga menerapkan metoda animasi 2D untuk pembuatan tokoh Mini Maui, yaitu tokoh berupa tattoo yang ada di tubuh Maui.***

Artikel oleh: Fitra Sunandar
Productions stills images courtesy of Walt Disneys Pictures.
(Dilarang menyadur/mengutip/mempublikasi ulang tanpa mencantumkan sumber dan nama penulis)

Post a Comment

0 Comments