Proses Produksi Film Zootopia

Zootopia adalah sebuah dunia modern yang sepenuhnya dihuni oleh binatang, dari gajah yang sangat besar sampai tikus terkecil, semua hidup berdampingan di tempat tersebut.

Namun ketika seekor kelinci betina bernama Judy Hopps diangkat menjadi polisi, ia mendapati kenyataan pahit, bahwa menjadi kelinci pertama yang bertugas di kepolisian kota tersebut,yang didominasi oleh binatang yang besar dan kuat, bukanlah sebuah hal yang mudah.

Zootopia

Namun ia tak patah semangat untuk membuktikan bahwa ia mampu menjadi seorang polisi yang baik, yang mampu memecahkan kasus-kasus besar, walau pun harus bermitra dengan seekor rubah licik bernama Nick Wilde.

Untuk menghidupkan tokoh-tokoh binatang dalam film tersebut, tim dari Walt Disney Animation Studio yang terlibat dalam film tersebut menghabiskan waktu selama 18 bulan hanya untuk mempelajari tingkah laku binatang.



Awalnya mereka mengamati binatang yang ada di Animal Kingdom di Walt Disney World dan Wild Animal Park di San Diego, kemudian beralih ke Kenya selama dua minggu untuk mengamati binatang yang ada di alam liar, dan mempelajari bagaimana hewan-hewan tersebut bisa terlihat sangat mengesankan di habitat asli mereka.

Para animator tentu saja hanya akan melihat binatang-binatang tersebut bergerak dalam kondisi alamiah mereka, yaitu berjalan dengan empat kaki, namun mereka harus mengubahnya dalam film nanti, menjadi bergerak dan berjalan hanya dengan dua kaki.

Bukan Cuma berjalan saja tentunya, tapi juga berdansa, berkelahi, dan gerakan-gerakan lainnya. 

Proporsi hewan-hewan tersebut dalam keadaan berdiri tentu juga harus diperhitungkan dengan benar, dengan skala yang akurat antara satu hewan dengan hewan lainnya.

Setiap spesies binatang harus dibuat versi dewasa dan versi anak-anaknya, dengan jenis jantan dan betinanya, dan harus dibuat bervariasi agar penonton tak hanya melihat kumpulan binatang yang sama berulang-ulang.

Dari sekian banyak karakter binatang tersebut harus tetap dijaga karakteristik hewani mereka agar tak teralu seperti manusia. Totalnya, ada sekitar 64 spesis berbeda dengan jumlah keseluruhan 800 ribu karakter yang harus dibuat!

Satu hal yang menjadi perhatian sangat serius adalah tentang proses pembuatan rambut atau bulu pada binatang-binatang tersebut. Untuk mempelajari hal itu, riset mendalam dilakukan di museum sejarah nasional di Los Angeles, dengan melakukan pengamatan dalam skala mikroskopis.

Bukan berarti Disney Animation Studio belum pernah berurusan dengan persoalan rambut sebelumnya. Kita tentu masih ingat film Tangled yang karakter utamanya punya rambut yang sangggaaat panjang. Disney juga yang menciptakan tool Autodesk XGen yang digunakan untuk membuat rambut dan bulu.

Namun studio tersebut baru kali ini harus membuat sekian banyak variasi rambut dan bulu untuk karakter yang berbeda, dengan tingkat kerumitan yang belum pernah mereka tangani sebelumnya.

Untuk karakter Hoops dan Wilde saja, yaitu seekor kelinci dan rubah, msing-masing dibutuhkan sekitar 2,5 juta helai rambut. Sedangkan untuk karakter jerapah dibutuhkan 9 juta, sementara seekor tikus saja membutuhkan 480ribu helai rambut.

Untuk menangani proses renderingnya, Disney menggunakan rendering engine internal mereka, Hyperion, yang sudah teruji ketangguhannya dalam menangani proses rendering dalam film Disney sebelumnya Big Hero 6.

Dalam flm itu Hyperion mampu menangani rendering scene yang sangat sangat massive dari pemandangan kota San Fransokyo yang memiliki 83 ribu gedung, plus property pelengkap seperti jalan, pohon, lampu, kendaraan, bahkan laut.

Dalam film Zootopia ini, siksaan yang mendera Hyperion bahkan lebih dahsyat lagi. Untuk menciptakan lingkungan di Zootopia yang sangak kompleks, tim dari Disney harus meningkatkan kemampuan mesin render mereka tersebut.

Eksperimen yang dilakukan menunjukkan bahwa Hyperion mampu merender 7 juta pohon sekaligus, dan pohon –pohon tersebut tak hanya diam, tapi bergerak dengan variasi kecepatan yang berbeda.

Hal ini memberikan keyakinan pada tim di Disney Animation, bahwa masalah kompleksitas lingkungan yang akan dibangun, tak perlu dikuatirkan lagi.***

Artikel oleh: Fitra Sunandar
Diolah dari berbagai sumber. Productions stills and visual effects images courtesy of Walt Disneys Pictures.
(Dilarang menyadur/mengutip/mempublikasi ulang tanpa mencantumkan sumber dan nama penulis)

Post a Comment

0 Comments