Paddle Pop Ice Cream
Sebuah suku pedalaman menemukan harta karun berupa ice cream. Lalu, segerombolan singa, yang dikomandani Padlle Pop mendatangi suku itu, bermaksud menguasai harta karun tersebut. Saling rebut pun terjadi. Namun, berakhir dengan damai. Proses perdamaian ditempuh dengan cara yang unik. Karena berbeda bahasa, maka komunikasi dilakukan dengan tari-tarian. Sayangnya, storyline ini terlalu pendek, sangat riskan untuk dapat segera dimengerti anak-anak yang menjadi target audien iklan ini. Menurut Tjiptoningtyas, hal ini disebabkan oleh terlalu pendeknya durasi iklan. "Tapi yang utama di sini adalah ada elemen tariannya. Tarian itu bisa ditirukan oleh anak-anak," papar animator iklan ini.
Tjipto menjadikan tarian tersebut sebagai fokus visual pada iklan ini. Agar gerakan tari terlihat unik dan menarik, dimintalah Ari Tulang, seorang koreographer terkenal, untuk menciptakan tariannya. Gerak tari yang diciptakan Ari lantas dijadikan blue print pada tarian empat karakter tadi. Gerakan tari direkam lalu di-break down ke durasi 12 frame/second. Dari ukuran yang sudah disesuaikan untuk ukuran karakter 2D itu gambar lantas di rotoscoping setelah sebelumnya di-capture ke dalam file image JPG. "Istilah yang dipakai dalam 2D biasanya adalah rotoscoping. Gambar-gambar gerakan yang kita dapat tadi kita capture dengan me-trace masing-masing gerakannya, memilah dengan karakter yang akan dibuat," jelas Tjipto.
Ada empat karakter animasi yang ikut menari. Yaitu, sang hero singa Padlle Pop, raja, dukun, dan kepala suku. Sebelumnya, Tjipto menyodori lebih dari sepuluh karakter "Ada bapak, ada ibu, ada anak-anaknya, ada segala macamnya," kata Tjipto. Namun, biro iklan hanya memilih 4 karakter tadi.
Tak ada referensi khusus dalam penciptaan karakter-karakter tadi. Tjipto hanya menyesuaikan dengan keinginan klien yang menghendaki keterwakilan sosok suku Indian. Sementara sosok singa Paddle Pop yang menjadi icon diubah sedikit. "Sebelumnya, bentuknya lebih flat. Karena sekarang ini sudah ada perubahan design berdasarkan panduan Walls regional," ungkap Tjipto yang sudah kerap menggarap iklan Walls. "Lumayan lebih ribet sih untuk karakter yang baru ini. Karena pewarnaannya lebih komplek. Kalau dulu kan karakter yang kita bikin shadow dan hightlight nya itu tinggal di block saja. Sedangkan yang baru, semua yang ada di endrawing, ini mesti kita gradasi," ulasnya.Di tahap coloring, usai proses key animation dan in betweennya, dilakukan dengan cara konvensional dengan menggunakan photoshop.
"Ada program lain untuk coloring ini, namanya retas. Tapi saya kira itu kurang cocok, jadi pakai yang konvensional saja. Hasilnya sih kalau pakai retas memang lebih cepat, cocoknya buat produksi animasi serial," tutur lulusan ITB ini.
Untuk menyelesaikan proyek ini, Tjipto butuh waktu sebulan, dibantu 15 orang temannya. Maklumlah, unsur animasi yang harus digarap memang banyak, dan harus melewati beberapa tahapan yaitu design, key animation, in between, coloring, yang masing-masingnya memakan waktu seminggu. Semula, animasi dalam 2D, di tengah jalan, klien minta dalam bentuk 3D. Terpaksa, pengerjaan 3D dioper ke VHQ Jakarta. ***
Brand: Walls Paddle Pop
Client: Unilever
Agency: McCann Erickson
Animator: Tjiptoningtyas
***
Interview oleh: Fitra Sunandar & Wiwie Uminarsih
Ditulis oleh: Wiwie Uminarsih
Foto: Bambang E. Ros
| | |
![]() | | |

