Terbuka Peluang Industri Animasi Indonesia di Timur Tengah
Industri animasi dalam negeri masih sulit berkembang di negeri sendiri, namun berpeluang besar memasuki pasar Timur Tengah. "Di dalam negeri hambatannya dana. Biaya produksi suatu film animasi sangat besar tetapi pasarnya tidak mendukung. Namun demikian tetap ada peluang di Timur Tengah," kata Pendiri Skyboost Animation Hario Sasongko pada diskusi bertema Menjual animasi lokal di Jakarta, Kamis (27/8).
Timur Tengah juga memiliki sejumlah stasiun TV yang perlu diisi seperti Al Jazeera Kids, khususnya yang sasarannya adalah anak-anak muslim. Ia mencontohkan Inggris yang telah memasok film animasi 99 ke Timur Tengah.
Sedangkan untuk pasar AS dan Kanada, menurut dia, sudah tertutup kemungkinan merambahnya, berhubung di AS telah ada empat perusahaan animasi yang sudah sangat mapan seperti Fox, Pixar, Dreamworks, dan Paramount.
"Empat perusahaan ini sajalah yang dinilai mampu membiayai suatu film animasi yang wajar untuk AS, yakni US$150 juta," ujarnya sambil menambahkan untuk film Avatar bahkan membutuhkan biaya US$4 miliar hingga US$7 miliar per episode.
Sedangkan untuk Indonesia, ujar pemenang lomba animasi Pekan Produksi Indonesia (PPI) itu, biaya itu bisa ditekan sangat jauh, bahkan sampai Rp1 juta per menit. Sayangnya, lanjut dia, ketika film animasi tersebut telah jadi, stasiun TV hanya mau membelinya dengan harga antara Rp5 juta hingga Rp10 juta per episode (24 menit). Menurut Hario, yang membuat proses pembuatan suatu film animasi sangat mahal adalah tenaga kerja yang dibayar sesuai jam kerjanya, peralatan, dan software-nya.
Sementara itu, pemilik Kojo Anima Andriansyah bercerita tentang film animasinya Kuci yang telah 13 episode ditayangkan di berbagai TV daerah seperti TV Papua (Top TV), TV Banten, TV Manado dan lain-lain dan sudah diperpanjang lagi dengan 13 episode. Sedangkan film animasi lainnya Zebi, sudah 46 episode ditayangkan di TV Edukasi, serta ada permintaan tambahan lagi 26 episode.
Proses pembuatan animasi, diakuinya cukup rumit, dari mulai sketsa karakter, membuat skripnya, modelling, take vocal, animasi, lighting, proses render, compositing, editing hingga penggabungan gambar dengan efek suara.
Ia mengaku, dengan menjual ke stasiun TV modalnya belum bisa ditutupi, namun karena ia juga bekerja di bidang konstruksi, maka dana yang dibutuhkan masih bisa ditoleransi.
Source: http://www.mediaindonesia.com/read/2009/08/28/92808/92/14/Terbuka-Peluang-Industri-Animasi-Indonesia-di-Timur-Tengah
