Standar Kurang, Animasi Indonesia Tak Bergigi
Walau studio animasi di Indonesia mengalami perkembangan cepat dalam beberapa tahun belakangan, ketiadaan standar kualitas animasi tanah air, menjadi ganjalan utama perkembangan industri tersebut. Demikian pendapat yang diutarakan direktur manajer Infinite Frameworks, Mike Wiluan, saat ditemui Republika Online di Jakarta, awal pekan ini.
"Industri animasi kita masih muda, sehinggaa kita harus bekerja sama dengan studio lain yang berada di luar negeri," ujarnya "Dengan begitu kita bisa mendorong standar industri animasi tanah air setara dengan Eropa dan Amerika Serikat," tutur Mike.
Mike beralasan, kerjasama itu merupakan upaya membuka jalan agar pihak internasional tahu tentang kualitas industri animasi tanah air dan secara alami, industri itu sendiri akan beradaptasi dengan standar tersebut. "Kita sekarang tidak bisa cuap-cuap ini (produk animasi) asal indonesia lho," ungkap anak dari taipan Batam, Chris Wulian.
Standar yang dimaksud Mike terkait keberadaan infrastruktur dan lingkungan khusus industri animasi. "Memang kita banyak studio animasi, tapi tidak semua menciptakan kondisi yang menunjang produktifas," kata Mike.
Saat mengelilingi indonesia untuk mengetahui perkembangan animasi tanah air, Mike menemukan kondisi lingkungan kerja seniman animasi atau animator tidak begitu mendukung. "Ada,studio yang meletakan komputer sembarangan tanpa memperhatikan kenyaman pengguna bekerja. Itu memang hal kecil tapi cukup berpengaruh," ujarnya.
Mike pun menyarankan kepada semua pihak terkait seperti asosiasi dan pemerintah untuk bersatu menjalankan 5 hal yakni menciptakan lingkungan bisnis animasi, pembangunan infrastruktur, pendidikan mendetail pada teknologi informasi, referensi budaya dan promosi.
Khusus lingkup bisnis animasi, Mike melihat potensi bisnis animasi tanah air begitu besar. Itu bisa digarap maksimal dengan lebih produktif memperkenalkan produk ke luar negeri melalui beberapa jalur seperti festival. Dari situ, menurut Mike, produser-produser animasi dunia akan melirik.
Langkah itu memang sudah dilakukan tapi tidak dibarengi dengan pembangunan infrastruktur yang mumpuni, seperti jaminan keamanan Internet Protocol (IP). Indonesia masih mengejar hal itu disaat negara-negara asia lain macam Singapura, India dan Cina selangkah lebih maju.
Untuk mengejar, kata Mike, pendidikan berbasis teknologi mutlak diperlukan. Menurutnya, pembekalan pendidikan berbasis teknologi harus dilakukan sejak awal. Paling tidak dijadikan hal wajib, karena diakuinya, saat ini Indonesia membutuhkan banyak sumber daya manusia dibidang seni animasi.
Selain itu, lanjut Mike, masalah kebudayaan juga penting. Mike beranggapan, industri animasi tanah air tidak perlu sensitif terhadap identitasnya. Dia beranggapan, untuk mengetahui pola pikir internasional maka pelaku industri animasi tidak harus mengangkat kebudayaan lokal sebagai alat jualan.Tapi lebih mencoba melihat budaya lain yang sekiranya bisa diadaptasikan dengan kultur Indonesia.
Tak hanya itu saja, kemampuan penggunaan bahasa inggris turut membantu disaat berada pada persilangan lintas budaya. "India misalnya, bisa membawa animasi ke arah yang lebih baik. Hanya dengan bermodalkan penguatan pendidikan berbasis teknologi informasi dan penggunaan bahasa inggris," tuturnya.
Langkah akhir yang tak kalah penting adalah promosi. Menurut Mike, melalui promosi karya animasi yang telah dihasilkan bisa dilirik dan dihargai.
Namun yang tak boleh terlupa, inti setiap langkah yang disarankan Mike, mengarah pada hasil akhir, yakni karya animasi. Karena dari situ bisa terlihat bagaimana standar animasi yang tercipta.
Source: http://epaper.republika.co.id/berita/65855/Standar_Kurang_Animasi_Indonesia_Tak_Bergigi
