Depperin Mengembangkan Industri Animasi Melalui Open Source
Departemen Perindustrian (Depperin) mengembangkan industri animasi yang merupakan bagian dari industri kreatif melalui teknologi open source (piranti lunak) yang dapat diunduh gratis untuk menjalankan program komputer. BUDI DARMADI Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika seperti dikutip Antara di sela membuka pameran "Pekan Produk Kreatif Indonesia 2009" di Jakarta Convention Center, Sabtu (27/06), mengatakan, selain dengan teknologi piranti lunak, Depperin akan memberikan dukungan kepada insan-insan kreatif di Indonesia melalui pendidikan dan pelatihan khususnya progam animasi, sebagai media promosi produk-produk lokal menengah.
Industri telematika, kata dia, merupakan satu diantara pilar industri nasional masa depan di samping industri agro, industri transportasi, industri barang modal, serta industri manufaktur. Industri telematika satu diantara industri kreatif serta industri potensial karena memiliki sumber daya yang tidak terbatas.
Dengan teknologi piranti lunak, menurut dia, akan mendukung dua sektor industri yang berbasis digital, yakni industri piranti lunak (software) dan industri konten media. Sedangkan industri konten media sendiri memiliki beberapa sektor yang kini sudah berkembang di Indonesia, antara lain periklanan, musik, film, video, dan fotografi.
"Namun pengembangan industri tidak lepas dari tantangan, terutama pemasaran yang bisa menembus pasar global," ujar BUDI. Dari segi pembelian, kata dia, pasar animasi dalam negeri masih sulit bersaing dengan animasi luar negeri yang dapat diperoleh dengan harga yang murah oleh jaringan televisi lokal. Masyarakat Indonesia masih terbiasa mengkonsumsi produk animasi luar negeri terutama Amerika Serikat dan Jepang.
"Beberapa animasi lokal, seperti animasi Kabayan, yang berhasil ditayangkan cukup mendapat respon positif, namun yang menjadi masalah adalah kontinuitasnya," kata BUDI.
Para pembuat animasi (animator) lokal, menurut dia pada umumnya masih kekurangan sumber daya terutama sumber daya modal. Hal tersebut, kata dia, diperparah dengan masih tingginya angka pembajakan. Untuk itulah, Depperin mengusahakan teknologi piranti lunak agar para animator di Indonesia dapat menekan harga piranti lunak untuk memproduksi animasi.
Source: http://www.koransuroboyo.com
