Indonesia Kekurangan Penulis Skenario Untuk Animasi dan Game
Saat ini Indonesia masih kekurangan penulis skenario untuk industri animasi dan game. Padahal skenario tersebut merupakan dasar dalam proses pembuatan animasi dan game. Hal tersebut dikatakan Manager Regional IT Centre of Excellence (RICE) PT INTI, Gerhard Simanjuntak, saat berbincang dengan detikbandung di PT INTI, Jalan Moch Toha, Jumat (20/11/2009) sore.
"Kita kekurangan penulis cerita yang bisa kita jadikan bahan untuk membuat game," ujarnya.
Ditambahkan oleh pria berkacamata ini, skenario merupakan landasan dalam pembuatan animasi ataupun game. Namun menurutnya, saat ini sulit untuk mencari penulis skenario.
"Suatu animasi atau game harus ada cerita. Dan cerita tersebut adalah karya para penulis skenario. Memang saat ini banyak para penulis, tapi berbeda antara penulis skenario dengan penulis-penulis biasa," ungkapnya.
Oleh karenanya, Gerhard berencana untuk membuat kerjasama strategis antara pihaknya dengan para penulis skenario. "Harus ada kerjasama dengan penulis. Kita harus banyak kerjasama supaya banyak skenario yang bisa kita pergunakan untuk membuat game," ujarnya.
Untuk memproduksi satu animasi dan game sendiri, dibutuhkan waktu 3 bulan mulai dari menemukan ide hingga animasi dan game tersebut jadi dan layak jual.
RICE sendiri adalah satu pusat inkubasi bagi perusahaan-perusahaan animasi dan game. Saat ini ada 4 perusahaan dari 7 perusahaan binaan RICEĀ yang dikonsentrasikan ke industri animasi dan game. Sisanya adalah perusahaan yang memproduksi aplikasi secara umum.
Sejak Agustus 2009 hingga sekarang, keempat perusahaan binaan RICE tersebut telah berhasil memproduksi kurang dari 10 animasi dan game.
"Memang belum layak jual. Tapi kita terus mengeksplorasi dengan kemampuan yang ada. Belum matang betul lah. Perlu banyak bertemu dengan banyak pihak, terutama dengan investor," pungkasnya.
Source: http://bandung.detik.com
