Ambassador Connect; Dunia Animasi, Buka Peluang Menuju Pasar Internasional
Pekan Produk Kreatif Indonesia tahun 2011 telah dimulai pada 6 Juli, dan berakhir pada tanggal 10 Juli 2011. Dalam event tahunan yang diselenggarakan di Jakarta Convention Centre ini juga di isi dengan kegiatan seminar dan diskusi tentang hal yang berhubungan dengan industri kreatif. Salah satu acara diskusinya diberi tema "Ambassador Connect; Dunia Animasi, Buka Peluang Menuju Pasar Internasional", diselenggarakan oleh Kementrian Luar Negeri, diselenggarakan pada tanggal 7 Juli 2011, pukul 09 sampai dengan pukul 13. Kebetulan saya mendapat undangan untuk menghadiri acara tersebut.
Saya jadi teringat pertemuan orang-orang yang berkecimpung di industri animasi beberapa tahun lalu, yang diselenggarakan oleh AINAKI di - kalau saya tidak salah - Bidakara. Saat itu banyak praktisi animasi yang hadir, berbagi pengalaman dan berdiskusi tentang industri animasi. Saat itu juga dibahas betapa industri kreatif bisa memberikan konstribusi yang besar bagi pemasukan keuangan negara.
Pada acara Ambassador Connect ini pun, garis besar pembahasannya kurang lebih sama seperti itu. Bahwa di negara lain, termasuk Korea, industri kreatif - industri animasi khususnya - menjadi industri yang berkembang dengan pesat hingga bisa diekspor ke ratusan negara, dan tentu saja memberi masukan devisa bagi negara pembuatnya.
Bedanya pada acara ini, kebanyakan undangan yang datang berpakaian resmi, jas, kemeja atau batik. Hanya beberapa orang yang menggunakan kaos. Itu karena pada acara ini tamu yang datang kebanyakan bukan praktisi animasi, melainkan undangan dari pemerintahan dan akademisi dari SMK dan universitas.
Daam acara ini hadir beberapa duta besar Indonesia yang bertugas di Korea, Arab Saudi, New Zealand, Inggris, sedangkan dubes Indonesia di Amerika tak bisa hadir dan diwakili oleh orang lain.
Masing-masing dubes menceritakan tentang kondisi industri kreatif di negara tempatnya bertugas, dan memberikan gambaran bahwa di negara tersebut masih terbuka peluang bagi insan kreatif Indonesia untuk memasarkan produk kreatifnya di negara tersebut.
Ada beberapa hal menarik yang diceritakan oleh para dubes tersebut. Dubes RI di Arab Saudi misalnya, menceritakan bahwa produk-produk yang membanjiri negara tersebut berasal dari Cina, mulai dari peniti hingga mobil, termasuk juga barang-barang kerajinannya, banyak dibuat di Cina. Dengan demikian dubes Cina di Arab Saudi tiap hari sibuk mengurusi para pengusaha yang datang untuk memasok produk di Arab, beda dengan dubes Indonesia yang sibuk mengurusi TKW yang kabur dari majikannya.
Hal menarik lainnya datang dari dubes RI di Inggris dan Amerika. Kedubes di kedua negara tersebut mengajak praktisi animasi dari Inggris dan Amerika untuk membagi pengalaman dan bertukar informasi tentang industri animasi di negara mereka masing-masing.
Animator dari Inggris diwakili oleh Tom Box sebagai pemilik studio animasi di UK bernama Blue Zoo, bercerita tentang pengalamannya mendirikan studio animasi tersebut bersama dengan 3 orang rekannya ketika baru lulus kuliah, awal tahun 2000-an. Saat itu mereka belum tahu apa-apa tentang industri animasi, tapi sekarang studio mereka sudah berkembang hingga memiliki karyawan lebih dari 100 orang.
Sementara dari Amerika diwakili oleh Ed Newmann dan Jeremy Rumas dari studio Calabash yang terletak di Chicago. Mereka menceritakan tentang karakteristik animasi di Amerika, seperti tentang pentingnya unsur ekspresi dan humor dalam film animasi produksi Amerika.
Selain para dubes yang berbicara di depan, hadir pula praktisi animasi yaitu Wahyu Aditya dan Daniel Harjanto yang diminta untuk memberi tanggapan dan masukan atas apa yang disampaikan para dubes tadi. Seperti acara diskusi pada umumnya, maka pertanyaan atau pernyataan dari para hadirin tentu menjadi suatu keharusan. Beberapa peserta yang hadir memberikan tanggapan, kritikan dan masukan - atau apapun namanya - bahwa negara yang industri animasinya sudah maju seperti Singapura, Malaysia dan Korea, serta New Zealand. mendapat bantuan dari pemerintah negaranya hingga industri animasinya bisa maju. Hal tersebut sesuai dengan pemaparan yang disampaikan oleh para dubes tersebut. Sementara di negara Indonesia ini, para pelaku industri animasi harus jungkir balik berjuang sendiri. Itulah makanya, judul "Dunia Animasi, Buka Peluang Menuju Pasar Internasional" pada diskusi tersebut terasa begitu 'wah', karena sama seperti diskusi yang saya hadiri beberapa tahun yang lalu pula, judul-judul tersebut hanya sekedar jadi wacana.
Dan saya pun tak heran ketika mengetahui beberapa nama undangan tak hadir dalam acara tersebut. Nama-nama tersebut - terlampir di list nama undangan yang dikirim melalui email - mereka adalah praktisi animasi yang banyak berkecimpung di bidang TV Commercial.




