Kelik Wicaksono
Sekitar tahun 2004, dunia animasi tanah air dihebohkan dengan munculnya sebuah film berjudul 'Homeland'. Film full animasi layar lebar tersebut adalah merupakan karya dari sekelompok anak muda dari Yogyakarta yang tergabung dalam studio Kasatmata. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang ada, film Homeland muncul di tengah industri animasi yang saat itu tengah mengeliat, menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi para pecinta animasi di tanah air.
Kelik Wicaksono, salah seorang animator yang terlibat dalam pembuatan film tersebut, sekarang menjadi animator freelance dan pengajar lepas di beberapa institusi pendidikan. Suami dari Ika Krismantari ini telah malang-melintang dalam industri animasi Indonesia.
Disela-sela kesibukannya 'dihajar' dead line, veegraph.com berhasil 'memaksanya' menjawab interview via email. Pria kelahiran Yogya, Juli 1978, ini akhirnya dengan ramah berhasil menjawab semua pertanyaan yang diajukan beberapa menit sebelum batas waktu yang ditetapkan.
Berikut bagi-bagi ilmu dari pria berambut ikal tersebut:
Sejak kapan bergelut di dunia animasi, baik secara personal mau pun professional?
Baru bener-bener kenal sama animasi 3D, waktu di kampus arsitektur, sekitar tahun 1999-2000 an. Kenal dengan aplikasi Autocad buat bikin model bangunan, lalu aplikasi 3D Studio Max (dulu versi 2.5) untuk rendering arsitektural yang lebih realistis.
Lalu mulai mencoba eksplorasi aplikasi 3DS Max, untuk kegunaan lain selain arsitektural. lalu bersama adik saya, yang sama-sama di arsitektur juga dan seneng 3DS Max, mencoba membuat short animation dengan judul 'kelolodhen' (2001) yang merupakan awal dari studio Kasatmata.
Secara profesional, menggunakan aplikasi 3DS Max untuk modelling arsitektural, untuk membantu temen-temen di project tugas akhir, sekitar tahun 2000-an.
Kenapa tertarik berkecimpung di dunia animasi?
Dari dulu saya suka menggambar. Dulu waktu kecil juga suka maenan 'flip book' dengan menggambar manusia lidi di sudut-sudut buku pelajaran, meskipun waktu itu belum sadar kalo itu salah satu bentuk animasi sederhana. Suka membaca juga. Dalam salah satu buku 'ketrampilan' yang saya baca, ada project untuk bikin 'zeotrope' (http://en.wikipedia.org/wiki/Zoetrope), mainan animasi sederhana. Sekarang gak tau tuh mainan itu hilang kemana, nyesel deh. Waktu SMP, saya pertama kali punya komputer, masih monochrome, monitornya ijo. Mulai kenal dengan beberapa program komputer. Selain buat nge-game, juga pernah belajar pemrograman BASIC lewat buku. Dengan BASIC bikin sesuatu bergerak di monitor, wah seru banget, masih pixel based gitu. Nah mulai dari situ, mulai tertarik animasi dengan media komputer. Apalagi waktu kuliah mulai mendalami aplikasi Autocad dan 3DS Max.
Beberapa film juga menarik perhatian saya. Waktu itu ada Jurrasic Park, Toy Story, dan Titan AE. Setelah itu baru mengetahui bahwa beberapa bahkan keseluruhan visual dari film tadi dibuat secara digital di komputer.
Jadi saya memang sejak awal tertarik membuat 'gambar bergerak', apalagi dengan didukung dengan komputer dan aplikasinya, hampir apapun bisa divisualisasikan.
Pendapat Anda tentang perkembangan dunia animasi di tanah air sekarang ini bagaimana?
SDM yang ada semakin didukung dengan pendidikan formal animasi yang mulai bermunculan, yang bukan hanya sekedar 'kursus 3DS Max', tapi secara formal memasukkan teori animasi, maupun sinematografi. Media dari internet untuk belajar semakin dapat diperoleh secara mudah. Perkembangan hardware dan software yang makin mutakhir. Hal ini belum bisa saya dapatkan di tahun-tahun yang lalu.
Perkembangan industri animasi juga semakin maju. Media iklan dan film lokal, banyak yang menggunakan animasi dan visual effect dalam visualnya. meskipun perlu beberapa langkah lagi untuk membuat animasi dan visual effect tidak hanya sekedar 'tempelan' saja.
Optimis aja, bakal tetep maju.
Dari kemudahan tersebut, apakah lantas semua orang bisa jadi animator? Apakah bisa hanya bermodalkan demoreel yang bagus bisa dapat pekerjaan di industri animasi, jadi gak perlu kuliah, misalnya.
Semua orang bisa jadi 'operator aplikasi 3D', tapi gak semua orang bisa jadi animator. Demo reel yang bagus perlu didasari dengan teori teori visual dan estetika yang bagus juga, dan tentu saja hal ini bisa diperoleh di luar kuliah.
Mau jadi animator yang bagus bisa saja gak usah kuliah (sesuai jurusannya atau gak kuliah sama sekali). Tapi jadi animator yang bagus gak akan bisa tanpa mempelajari dasar-dasar animasi, ataupun ilmu-ilmu visual lain yang mendukung.
Kalau dilihat track record-nya, lebih banyak jadi pengajar ya? Bisa cerita perbedaan dua hal tersebut, antar mengajar dan menjadi praktisi?
Perbedaannya, ya terkadang pengajar itu hanya teori saja (dimana saya gak setuju dengan cara ini), sedangkan sebagai praktisi, dalam mengerjakan kasus yang berbeda, kita harus menggunakan trick-trick yang cuma bisa didapat dari pengalaman.
Tapi sebagai pengajar menurut saya, gak akan lengkap tanpa aktif terjun langsung di industri yang sebenarnya.
oleh karena itu dalam mengajar, saya mencoba memperkenalkan bagaimana lingkungan industri yang sebenarnya, bukan hanya teori teori saja, tapi juga trick-trick yang dipakai untuk masing-masing kasus yang berbeda.
Apakah jadi praktisi lebih cape karena harus berhadapan dengan klien?
Wah, capek mana yah, antara revisi oleh klien berkali kali, sama merevisi kerjaan 30 mahasiswa yang bandel bandel? Hehehe.
Sebagai pengajar, menurut Anda, bagaimana pendidikan CG di Indonesia, apa kah cukup memadai untuk mendukung pertumbuhan industri CG di Indonesia, atau bahkan dunia?
Sudah mulai, tapi masih belum cukup memadai. Untuk mendukung pertumbuhan industri CG, kita gak bisa cuma mengandalkan pendidikan CG di indonesia saja. kita harus lebih membuka mata kita terhadap dunia luar. internet merupakan salah satu media pendukungnya. toh belajar tidak hanya terbatas dalam pendidikan formal saja.
Bagaimana peran serta - kalau ada - dari pemerintah? Apa saja dukungan pemerintah bagi kemajuan industri CG? Apakah sudah cukup bantuan dari pemerintah tersebut?
Banyak hal yang dilakukan Ainaki (Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia), supaya pemerintah lebih peduli terhadap industri animasi di Indonesia.
Salah satunya pada 2 atau 3 tahun yang lalu, Ainaki bekerjasama dengan pemerintah melalui Dikmenjur mulai mendirikan SMK dengan jurusan animasi. Hal ini tentunya membantu berkembangnya SDM animasi yang dimulai dari tingkat SMK/SMU. Yang lainnya misalnya penyelenggaraan pameran industri animasi.
TVC animasi apa saja yang pernah Anda buat, dan mana yang paling berkesan?
diantaranya :
- Clasmild (class music & class movie motion graphics)
- nyam-nyam (versi hadiah)
- BTN (versi money man)
- Vituno (versi sand man)
- Indosat (versi giant hand)
- Richeese (versi richeese land)
- Prima Water
Yang paling berkesan adalah iklan air minum Prima, karena menggunakan simulasi liquid untuk mentransformasikan air dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Perlu beberapa kali ulang simulasi dan perubahan parameter untuk mendapatkan bentuk liquid yang diinginkan. Jadwal produksi beberapa kali berubah, karena setiap revisi dari agency ataupun klien berarti perulangan simulasi yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Beberapa teknik dilakukan untuk membuat liquid, dari realflow sampai massive particle menggunakan particle flow. Beruntung sekali bisa satu tim bersama bang Taufiq Rahmadan (Render Post) dalam mengerjakan project ini.
Tentang pembuatan TVC Prima, bisa dijelaskan secara teknis proses pembuatannya? Bagaimana membuat liquid berbentuk sepeda dan objek lainnya?
Okey, dimulai dengan membuat objek 3D yang sesuai dengan bentuk liquid yang diinginkan nantinya. Lalu sesuai dengan board, komposisi kamera diatur dan objek tadi dianimasikan. Kemudian objek 3D tadi 'diisi' dengan menggunakan aplikasi RealFlow. Pengisiannya ada beberapa macam cara, mulai dari sebagai emitter, ataupun fill object. Tergantung dari object nya. Pengisian partikelnya juga tidak cukup sekali saja. Dalam objek manusia, misalnya dibuat beberapa emitter: ada yang sebagai sumber partikel, sebagai partikel yang meleleh/tumpah kebawah, dan ada yang muncul sebagai partikel ketika bertabrakan dengan objek lain.
Untuk transformasi dari satu objek ke objek lain, kita harus membuat emmitter partikel dari objek A yang kemudian diarahkan untuk menempel ke objek B, sehingga seolah-olah partikel tadi berubah dari A menuju B.
Kemudian setelah beberapa kali test, dan bentukan partikel sudah menjadi sesuai yang diinginkan, barulah dibentuk mesh cairan dari partikel tadi, yang kemudian dilakukan proses rendering di aplikasi 3DS Max.
Bisa flashback sejenak tentang Kasatmata dan Homeland-nya, bagaimana bisa terjadinya pembuatan proyek film Homeland tersebut?
Pada mulanya, kami komunitas Studio Kasatmata mencoba berkarya dengan short animation kedua kami, berjudul 'Loud Me Loud' (02.2002). Short animation kami tadi diikutkan ke Konfiden (Festival Film Video Independen 2002), memperoleh beberapa penghargaan. Diawali dari festival tadi, bapak Garin Nugroho dan tim dari yayasan visi anak bangsa, memberikan kesempatan kepada kami untuk memproduksi film animasi dengan durasi lebih panjang, dengan dukungan berupa subsidi produksi sebesar 150 juta. Sebuah kesempatan yang gak bakal dateng lagi besok besoknya. Dengan waktu produksi kurang lebih 14 bulan, akhirnya kami dapat mempersembahkan film animasi berjudul 'Homeland' untuk Indonesia, dan roadshow di beberapa kota di Indonesia. Fiuh...
Kenapa perkembangan feature film animasi tidak bisa sepesat industri animasi untuk TVC ya?
Mungkin hal ini terjadi karena industri animasi (ataupun visual effect) TVC adalah industri yang 'instant' dengan durasi yang singkat. Tingkat kesempurnaan produk animasi ataupun visual effect bisa diperoleh dalam waktu yang singkat.
Sedangkan untuk mengerjakan feature film animasi, diperlukan sumber daya yang lebih masif dan waktu yang lebih panjang, dengan kata lain, kalau mau hasilnya bagus dan ditanggapi positif oleh penonton, tidak bisa instant dan asal asalan dalam pengerjaannya.
Agency dan PH di Indonesia sudah membentuk asosiasi untuk melindungi kepentingan mereka. Menurut Anda, bagaimana urgensi nya membuat sebuah asosiasi para pekerja animasi? Apa kah belum perlu? Atau sebuah keharusan? Kalau harus, alasannya apa?
Hmmmm, belum tau yah, urgensinya apa. Untuk melindungi dari persaingan harga atau persaingan kualitas yang tidak sehat? Menurut saya, sebelum bikin yang begitu supaya dilindungi kepentingannya dan dihargai, tunjukkin dulu bahwa kita mampu dan kualitas kita layak buat dihargai.
Anda sekarang freelance ya? apakah ada rencana bikin studio sendiri?
Yup. Belum dalam waktu dekat. Nabung pengalaman dulu, cari partner 'jualan' yang cocok.*** (FS)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nama: Kelik Wicaksono
Pendidikan terakhir: S1 Arsitektur UGM
Tempat/Tanggal Lahir: Yogyakarta / 7 Juli 1978
Pengalaman kerja:
2001-2003 - instruktur autocad & 3ds max di lab arsitektur ugm
2002 - bersama sama mendirikan rumah animasi studiokasatmata yogyakarta
2002-2006 - 3d animator, visual artist di Studio Kasatmata
2003-2006 - freelance 3D animation instructor di ‘Visimedia College’ Yogyakarta
2005-2006 - freelance 3D animation instructor di ‘Digital Studio’ Yogyakarta
2006-2007 - freelance 3D animation instructor di ‘Tridigital College’ Muarakarang Jakarta
2006-now - freelance 3D animation instructor di ‘Lasalle College’ Jakarta
2008-now - dosen tidak tetap di Universitas Bina Nusantara, mengajar animasi 3D dan visual efek
2006-now - freelance 3D artist di beberapa PH, dan sutradara, mengerjakan iklan, visual efek maupun video profile.
| | |
![]() | | |
![]() | | |
![]() | |
Link terkait:
- Studio Kasatmata
- Ainaki
- TVC Air Mineral Prima
| Related Articles: |
|---|











