Mike Wiluan, Managing Director Infinite Frameworks

 

Kabar gembira datang dari Batam. Sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura, namanya Infinite Frameworks, membangun studio animasi di kawasan berikat itu. Lebih menggembirakan lagi, perusahaan itu membuka kesempatan kepada para artist animasi tanah air untuk bergabung sebagai animator kontrak. Tawaran bergabung itu gencar dilayangkan lewat iklan di media cetak dan mailing list. Sebuah peluang emas bagi anak negeri untuk terlibat dalam proyek berskala internasional.

Ditilik dari namanya, banyak orang menyangka bahwa perusahaan yang bergerak di bidang computer graphic ini pastilah milik investor asing. Namun, usut punya usut, ternyata perusahaan ini digerakkan oleh keluarga Wiluan, pengusaha Indonesia yang sukses berbisnis oil, gas, dan chemical di Singapura. Infinite Frameworks dikendalikan oleh Mike Wiluan, putra Chris Wiluan, sang taipan.

Latar belakang pendidikan Mike Wiluan adalah film production. Dia kuliah di London, dan setelah lulus, melang-lang buana dalam bisnis production house di kawasan Eropa. Sekitar tahun 1997, ia dipanggil pulang untuk membantu bisnis keluarga. Pria energik ini bergerak cepat. Dia membaca potensi besar bisnis computer graphic, sementara untuk kawasan Asia Tenggara pemainnya masih sedikit.

Maka dengan dukungan penuh dari keluarga, dia membuka studio animasi di Batam. Mike merekrut Daniel Haryanto, animator kawakan Indonesia, dan kawan-kawannya untuk mengkoordinir studio di Batam. Mike juga menggandeng Phil Mitchel, pemilik Mainframe Entertainment, Canada, yang sudah berpengalaman selama 20 tahun di dunia animasi TV Commercial dan film, serta lima pentolan animasi lain dari Amerika dan Inggris.

Sebuah proyek senilai Sing$ 4 juta berhasil diraih Infinite Frameworks dari pemerintah Singapura. Sebuah proyek pembuatan serial animasi untuk pasar Eropa juga sudah diambang mata. Seberapa besar potensi Singapura dan Indonesia untuk berperan di industri animasi ini?

Bisa ceritakan, awal mula Anda menggeluti bisnis film production? 
Mike WiluanUntuk Infinite Frameworks, sebagai perusahaan post production, kami memulainya pada tahun 1997 di Singapura. Sebelumnya saya bekerja sebagai freelance director sekaligus producer selama empat tahun di London. Kebetulan saya juga mengambil sekolah film di Inggris. Karena krisis ekonomi, saya membantu mengurus perusahaan keluarga, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan industri yang saya geluti saat ini, yaitu perusahaan minyak, makanan, dan zat kimia.

Kenapa memilih spesialis di industri film animasi?
Pada saat saya menonton sebuah film animasi berjudul Toy's Story, saya menilai bahwa animasi memiliki prospek yang hebat. Terus terang, saya tidak mengetahui sama sekali tentang Computer Graphic (CG) yang merupakan dasar bagi industri film animasi. Yang saya tahu hanya cara membuat film. Ketika nonton film itu, saya bertekad akan membangun perusahaan yang memproduksi film animasi dalam 4-5 tahun ke depan. Setelah saya terjun selama 2 tahun, saya semakin yakin bahwa bisnis CG ini sangat besar potensinya.

Kenapa memilih Batam sebagai basis industri animasi?
Di Singapura, kita lebih orientasi ke post production. Karena animasi juga selalu menjadi komponen dari bisnis ini, jadi kami memutuskan untuk membuat studio animasi di Batam. Namanya Infinite Framework Studios. Studio di Batam itu semuanya dioperasikan oleh orang Indonesia. Kami hanya mengambil nama Frameworks-nya saja karena berasal dari satu grup. Direncanakan pada Februari 2006, studio ini akan kami launching.

Bagaimana Anda melihat potensi industri animasi di Asia Tenggara, khususnya Indonesia? 
The worldwide trend investasi di bidang animasi saat ini sedang mengarah ke Asia, karena Asia memiliki cost production yang lebih rendah.
Tapi yang terpenting bukan karena cost. Menurut saya, banyak studio yang ada di Amerika ataupun Eropa, melihat value dengan arti yang berbeda, seperti nilai ekonomi, nilai kualitas, dan nilai hubungan kerja. Ada sekitar 400 studio di India, yang mungkin juga sama jumlahnya dengan yang ada di Cina. Dan ini berkembang dengan sangat pesat.

Indonesia menjadi salah satu target, sebagai tempat mengembangkan content bersama base studio yang ada di Amerika dan Inggris. Beberapa animator Indonesia itu sudah tampil di tingkat dunia. Beberapa kali lomba animasi internasional, salah satu pemenangnya adalah orang Indonesia. Itulah alasan mengapa kami juga membuka kantor di Singapura. Karena Singapura memiliki hukum proteksi yang kuat untuk internet protocol (IP), infrastruktur dan market-nya baik dan sangat stabil. Kami menggunakan Singapura sebagai rumah pertama, dan kami mengkombinasikannya dengan apa yang kami buat di Indonesia. Tidak untuk bersaing dengan Cina dan India, karena Singapura dan Indonesia masih belajar. Singapura sadar bahwa belum banyak jaringan atau resources, dan butuh waktu untuk mempelajari itu. Sedang Indonesia masih harus mengejar karena Indonesia tidak memiliki teknologi computer graphic untuk waktu yang lama. Selain itu, belum ada infrastuktur sehingga Indonesia belum mampu bersaing dengan Cina dan India. Jadi saya rasa penggabungan antara Singapura dan Indonesia akan membuat sebuah profit yang bagus.

Jadi, Anda membuat tim?
Ya, ini double tim.

Berapa banyak artist animasi yang Anda konsentrasikan di Batam saat ini?
Karena sekarang masih sangat minim schedule produksinya, hanya ada sepuluh orang di studio Batam, kami masih dalam pengembangan. Kuartal pertama tahun 2006 kami akan naikkan menjadi empat puluh orang, dan beberapa bulan setelah itu akan ada enam puluh orang. Itu hanya untuk satu project, lho.

Kami melihat akan ada beberapa project yang masuk dalam waktu 12 bulan dari sekarang, maka jumlah artist animasi akan kami tambah hingga 320 orang. Tapi kapasitas yang dimiliki studio di Batam, hanya cukup untuk menangani tiga project dalam waktu yang bersamaan. Jadi mungkin kami akan mencari 180 orang dalam waktu dua tahun ketika tiga project itu jalan.

Apakah mereka di-hire sebagai in-house?
Ya. Biasanya yang terjadi pada studio di negara lain artist animasi itu dipekerjakan berdasarkan kebutuhan. Jika membutuhkan orang untuk pekerjaan tiga bulan, cukup meng-hire orang tersebut sebagai freelancer selama tiga bulan. Tapi, karena di Indonesia cost yang saya keluarkan sedikit lebih murah dan kami juga mempunyai fleksibilitas untuk meng-hire orang dan men-training mereka, kami bisa memperkerjakan mereka dengan status in house.

Point-nya adalah, bagaimana caranya menekan cost sekaligus mendapatkan project sebanyak mungkin sehingga studio dan orang-orang di dalamnya dapat dipelihara. Sangat penting untuk kami melakukan pendekatan seperti ini, dan kami sangat fleksibel.

Bagaimana anda melihat market-nya?
Market kelas menengah permintaannya sangat besar, untuk TV dan feature film. Dengan uang yang kami investasikan untuk ini, kami yakin dapat bermain di kelas menengah. Sebaliknya, saya tidak yakin sudah siap untuk bermain di pasar Hollywood, Amerika.

Saat ini, project apa yang sedang diproduksi di studio Batam?
Kami sedang memproduksi sebuah project feature film animasi 3D dengan durasi 80 menit untuk pemerintah Singapura. Produksinya sudah berjalan selama dua bulan, pada tahap art production. Kami akan segera memulai produksi secara keseluruhan pada bulan April 2006. Untuk membuat sebuah feature film dalam bentuk animasi membutuhkan waktu yang lama. Pixar misalnya, memerlukan waktu tiga sampai dengan empat tahun untuk membuat sebuah film animasi, mereka mempunyai banyak sekali project pada waktu yang bersamaan. Paling tidak memerlukan dua tahun untuk develop art, script dan ceritanya. Dua tahun berikutnya baru memproduksi.

Project ini datang dari mana?
Dari pemerintah Singapura dan beberapa investor swasta. Mungkin ini akan menjadi proyek animasi dengan budget terbesar, gabungan dari Singapura, Malaysia, dan Indonesia sebesar Sing$ 4 juta. Tapi, jika dibandingkan dengan budget untuk film animasi di dunia, ini belum apa-apa, masih sangat minim.

Feature film yang sedang dibuat itu bercerita tentang apa?
Cerita film ini sangat unik, diangkat dari buku yang berjudul 'Sing To The Dawn' karena seorang penulis Singapura yang tinggal di New York. Buku ini ditulis pada tahu 1917, dan memang sudah menjadi dongeng wajib yang diajarkan sejak SD di Singapura. Ceritanya tentang usaha empat perempuan desa di Thailand untuk mendobrak tradisi desa mereka yang melarang anak perempuan keluar rumah mencari sekolah. Tidak seperti anak laki-laki, perempuannya tugasnya hanya kawin, punya anak-anak, dan memelihara mereka.

Cerita di buku itu harus kita adaptasi ke layar animasi. Pada saat anda membuat animasi, anda harus membuat sebuah action, komedi, sequence, dan membuat tokoh-tokohnya menjadi karakter yang menarik, yang hebat agar anak-anak atau siapapun yang menontonnya merasakan sesuatu yang hidup.

Treatment apa yang diterapkan dalam film ini?
Untuk film Sing To The Dawn ini tidak membutuhkan banyak fantasi yang hebat. Yang kami lakukan adalah mengambil cerita dan membedahnya, membuat fantasi dengan melakukan semua hal yang tidak mungkin. Itulah yang harus dilakukan dalam animasi. Ini merupakan media yang bisa membawa semua hal yang tidak bisa didapatkan di kehidupan nyata ke dalam kehidupan nyata. Itulah mengapa orang sangat suka animasi. Anda tidak boleh melihat animasi hanya sebagai replika atau imitasi tingkah laku manusia dengan membuatkan sebuah karakter kartun saja. Kami harus melahirkan banyak keajaiban, seperti Disney. Dan kami mengembangkan ini pada segala aspek yang potensial, seperti: merchandise, mainan, buku, games, dll.

Maksudnya, dengan itu anda mendapatkan extra money?
Produk animasi itu tidak hanya buku, tapi bisa menjadi mainan, film, serial, atau apapun yang anda inginkan. Jadi, saat ini para designer kami memiliki banyak hal di dalam otak mereka, saat mendisain sebuah karakter. Mereka berusaha memaksimalkan setiap karakter. Misalnya, babi. Saat ini babi bisa menjadi mainan, film seri, movie atau apapun. Ini merupakan investasi jangka panjang, kita tidak akan langsung mendapatkan keuntungan.

Apakah ada project yang datang dari Amerika?
Saya sering bepergian untuk mempromosikan ini, dan mencari rekan kerja yang akan terlibat dalam produksi sehingga kita dapat memproduksi ini dengan cara co-production. Saat ini kami sedang membicarakan satu project film seri yang rencananya akan diproduksi sebanyak 26 episode dengan sistem co-production. Kami masih mendiskusikan ini dan jika ini berjalan baik, maka dalam waktu dekat kami akan produksi. Semuanya 3D animasi dan didistribusikan untuk market Eropa. Saya berharap suatu saat dapat mengerjakan karakter dan desain dari Indonesia. Karena Indonesia memiliki budaya yang luar biasa yang seharusnya banyak orang tahu dan menghargai itu.

Kembali ke soal cost production. Bisa dijelaskan seberapa besar perbandingan murahnya biaya produksi di Indonesia?
Jika kita bicara masalah produksi film seri di Amerika, satu episode untuk durasi 30 menit biayanya bisa mencapai US$ 300-400. Sedang di Singapura dan Indonesia, kita bisa melakukannya dengan kurang dari US$ 150. Kita lihat India, mereka bisa produksi dengan US$ 60 sampai US$ 80. Tapi, kualitasnya sangat buruk. Demikian juga halnya dengan Cina. Mereka bisa melakukan itu karena menggunakan banyak sofware bajakan, dan mempekerjakan pekerja freelance. Kami tidak begitu. Kita mesti me-maintain studio dengan 300-400 orang di dalamnya.

India melakukan itu karena mereka masuk ke market C dan D. Murah, tapi tanpa value. Yang penting menghasilkan uang banyak. Kami tidak mau menjadi seperti mereka, perusahaan service provider. Kami tidak mau orang memperlakukan kami sebagai kuli, service provider, terima pesanan karakter.

Jadi, idealnya gimana?
Kombinasi antara nilai ekonomi dan value. Anda memiliki kemampuan untuk mengembangkan level artistik, karakter, dan pendapatan. Serta menunjukan kepada orang bahwa Anda juga memiliki uang. Pemerintah Singapura sangat agresif. Kami tidak hanya memohon untuk dapat pekerjaan saja, tapi kami mengerjakannya dengan menaruh uang kami di dalamnya. Makanya, ketika pemerintah Singapura berani taruh dana investor lain juga ikut bergabung.

Kami menghargai partisipasti pihak pemerintah dalam project ini untuk memancing lebih banyak investor. Jika tidak ada itu, Anda tidak memiliki bargaining power. Keterlibatan pemerintah ini akan membantu perkembangan ekonomi, khususnya industri animasi.

Bagaimana Anda melihat sikap pemerintah Indonesia?
Saat ini, belum bisa dilakukan di Indonesia. Saya pernah melakukan presentasi tentang industri animasi kepada Presiden Indonesia di Medan. Waktu itu Bapak Presiden baru saja tiba dari India dan Korea. Saya memberitahu bahwa India berencana mengembangkan industri ini secara besar-besaran hingga 2008. Untuk tahun 2006 saja, mereka membutuhkan paling tidak 25.000 orang animator. Sedang di Indonesia hanya 1000 sampai 2000 orang. Jika dibandingkan dengan India, jumlah penduduk Indonesia tidak kalah. Korea Selatan juga begitu, negaranya kecil tapi berhasil mencetak ribuan animator pada tahun 2004.

Walaupun kami memiliki potensi, tapi kami tidak dapat berkembang sendiri. Kami membutuhkan bantuan dari siapapun. Dukungan pemerintah, dan siapapun yang ingin bergerak dalam bisnis ini. Selain itu, anak-anak seharusnya dari kecil sudah terbiasa dengan teknologi komputer yang cepat dan canggih.

Kita membutuhkan peraturan agar industri bisa berkembang. Indonesia perlu meniru Singapura, dimana terdapat satu lembaga yang secara spesifik bertugas mengembangkan industri film dan radio broadcasting. Namanya Media Development Authority. Agency ini tugasnya menjaga industri, mem-provide infrastruktur, menggalang dana, mengontrol, dan memberikan petunjuk agar industri ini lebih berkembang. ***

Foto: Bambang E. Ros


 


Related Articles:


Banner