Eric Kawilarang (Epix Studio)
Nama Epix FX Animation Studio pasti bukan sesuatu yang asing di telinga praktisi animasi Indonesia. Studio animasi yang dulu berlokasi di dekat area jembatan semanggi, dan sekarang pindah ke area Kemang Jakarta Selatan ini, adalah salah satu studio animasi yang terbesar di tanah air. Sudah sangat banyak karya yang dihasilkan Epix studio, baik berupa TVC atau pun visual effect pada beberapa feature film. Dan perjalanan panjang sukses Epix studio tak terlepas dari satu nama yang ada di belakangnya; Eric Kawilarang.
Pria kelahiran 12 Desember 1972 ini ternyata dulu pernah jadi Disc Jockey jebolan ‘Blackboard Studio Master School’ asuhan musisi Jockie Saputra dan pernah menggondol juara pertama ‘Indonesian Disc Jockey Competition’ tahun 1989. Namun sekarang hari-hari pria yang biasa disapa Eric ini diisi dengan menjalankan Epix studio yang berdiri sejak tahun 2000. Bagaimana ceritanya hingga mantan Disc Jockey ini banting setir ke dunia animasi?
Hal ini diawali larangan berprofesi sebagai Disc Jockey dari kedua orang tuanya. Keinginan untuk mengambil kuliah musik di salah satu universitas di London tidak mendapatkan restu dari keduanya. Kegiatan nge-DJ pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Eric sering kabur lewat jendela kamarnya di malam hari untuk menyalurkan hobinya mengiringi orang berdisko. “Orang rumah sih tahunya saya tidur. Mereka nggak tahu kalau saya bisa kabur lewat jendela pergi ke disko, hahaha,” seloroh pria yang mengaku tak menyukai pergaulan kehidupan malam ini. Untuk menyukseskan kegiatan kaburnya itu, Eric kerap menggunakan taksi untuk pergi ke disko. “Kalau nggak gitu ngedorong mobil dari garasi dan baru dihidupin kalau sudah agak jauh dari rumah,” imbuhnya.
Kesukaan dirinya terhadap seni memang tidak sebatas musik semata. Ia juga getol menggambar sejak duduk di sekolah dasar.Eric tidak bisa melihat ada spidol dan kertas nganggur. Di mana pun spidol dan kertas nganggur itu berada, Eric senantiasa melampiaskan kegemarannya menggambar. Konsentrasi belajarnya pun kerap terganggu kegemaran mencorat-coret kertas ini. “Saya jadi inget jaman saya SMP setiap mau masuk kelas gurunya selalu memeriksa isi tas saya dan kalau ada spidol, spidolnya pasti diambil,” ceritanya.
Hobinya menggambar ini membawanya mengambil jurusan arsitektur di American College for The Applied Arts, Los Angeles setamat SMA di Columbia College, Vancouver. Di kuliahnya inilah ketertarikan Eric pada gambar gerak mulai muncul. Eric kemudian memutuskan untuk menambah jam belajarnya. Sekolah animasi di University of California, Los Angeles dan di Pasadena Art Center menjadi tempat Eric mendalami ilmu graphic design dan animasi. “Awalnya aku merhatiin temen, karena waktu itu temennya kan campur-campur berbeda jurusan. Dan saya lihat kok kayaknya asyik, jadi ingin juga mencoba jurusan yang lain,” tutur pria yang lihai bermain drum ini.
Usai menimba ilmu menggambar dan animasi di negeri Paman Sam, Eric mencoba peruntungannya di dunia percetakan. Tahun 1996, Eric membangun sebuah usaha percetakan di Indonesia yang diberi nama ‘Grafindo’. Usaha ini berjalan sukses hingga saat ini. Tidak hanya berhenti sampai di situ, Eric mengembangkan usaha lain yang masih berhubungan dengan dunia gambar dan animasi. Tepat pada tahun 2000, lahirlah Epix Studio. Nama Epix sendiri berasal dari kata ‘Epic’ yang berarti sangat berani. Namun kemunculannya sendiri lebih karena kata itu bagi Eric terdengar keren. “Suka aja, kedengerannya bagus,” ujarnya.
Pada awal kiprahnya, Eric yang masih bekerja sendirian ini sempat mengalami sepi order. “Dulu selama setahun pertama job-nya asal dapat sini sono,”ujarnya. Akibatnya, spesifikasi order yang diterima masih sangat variatif, dari sekedar menggerakkan gambar foto untuk acara pernikahan sampai menggerakan gambar logo. Situasi ini menyadarkannya bahwa untuk meraih kesuksesan di bisnis animasi ternyata membutuhkan proses panjang nan berliku.
Namun berkat bantuan dari klien pertamanya, Hesti Prihantini dari biro iklan Lowe, studio milik Eric mulai dilirik pasar. “Kerjaan awal yang diberi sama mbak Hesti bermula dari bantuin touch up-touch up project 3D dia karena hasil yang ia dapat di post luar nggak muasin,” tutur bapak dari Darren dan Madeline ini.
Bertambahnya order yang diterima membuatnya merasa perlu menarik orang untuk bekerja bersamanya. Teman semasa sekolahnya dulu diajak bergabung. Order yang diterimanya pun berkembang dari semula hanya menerima order graphic design, menjadi penyedia jasa animasi. “Semua berkembang mengikuti permintaan klien. Mereka mau supaya di tempat saya ada komponen 3D-nya. Setelah dipikir-pikir kenapa nggak coba saja dulu. Apalagi untuk sekarang ini animasi kan harganya juga lumayan mahal,” ceritanya.
Saat ini, Eric telah memiliki sembilan orang creative. “Ini sebenarnya masih kurang. Untuk itu saya sendiri sampai sekarang dengan sangat terbuka masih membutuhkan sumber daya manusia yang lebih lagi,” tuturnya. Namun Eric merasa bahwa Indonesia belum banyak memiliki sumber daya animator berkualitas. “Masih susah cari sumber daya yang kayak gitu,” ujar pria yang sekarang ini punya hobi baru, yaitu fotografi.
Kerja kerasnya di bisnis grafis dan animasi kini mulai membuahkan hasil. Epix Studio miliknya mulai dilirik oleh perusahaan film terkenal di Amerika. Studio film ‘New Line Cinema’ menggandeng Epix Studio untuk menggarap film yang sekarang ini sudah masuk tahap pra produksi. Dalam urusan film pun Epix Studio tahun ini rencananya akan mengedarkan dua buah film animasi, yang masih dirahasiakan judulnya, di bioskop-bioskop Indonesia. Tampaknya, Eric dengan Epix Studionya sudah ambil ancang-ancang untuk go international.
Film bagi Eric adalah sebuah impian yang harus diwujudkan. Baginya, film itu menarik karena memiliki proses yang panjang. Eric menjanjikan film yang bakal digarapnya bareng `New Line Cinema’ tersebut akan menampilkan gambar yang full effect. Bahkan dia tidak menutup kemungkinan untuk memproduksi film yang full 3D. Tapi ada syarat yang diajukannya, “Jika human resource-nya sudah memenuhi,” ujarnya.
Kesibukannya di dunia graphic design dan animasi tidak lantas membuatnya meninggalkan hobi bermusik. Sampai sekarang, Eric masih menyempatkan untuk mengisi waktu luangnya dengan bermain drum dan perangkat Disc Jockey portable. Pria kurus tinggi ini ternyata melihat hubungan yang erat antara musik, grafis, animasi, dengan pekerjaan yang digelutinya. “Menurut saya sih untuk para animator background musik itu ternyata sangat perlu banget, sebab untuk menggerakkan animasi sendiri kan membutuhkan rhythm,” ulasnya.
Andai saja waktu itu Eric tidak dilarang kedua orang tuanya menjalani karier bermusik, mungkin Epix Studio tidak akan pernah lahir. Namun pria kalem ini berkeyakinan bahwa hidup itu harus dijalani layaknya aliran air, ”Semua hobi saya jalani saja dan mengalir seperti air,” paparnya.***
Interview oleh: Fitra Sunandar & Wiwiek Uminarsih
| Related Articles: |
|---|
