Gudang Garam Corporate

Kalau mengingat dua TVC Gudang Garam versi Agustusan dan Ramadhan, maka kita bisa menemukan adanya sentuhan real shot biasa. Sementara pada iklan versi Natal dan Tahun Baru, Gudang Garam menambahkan ciri khasnya tersebut dengan gaya eklektik terkemas dalam grafis dan animasi. Iklan corporate inilah yang hingga kini masih terpatri di dalam benak kita karena harus diakui iklan tersebut berbeda dengan lainnya. Padahal tahun barunya sendiri sudah lewat. Gudang Garam corporate sejak bulan Agustus yang bertepatan dengan hari kemerdekaan lalu memang merubah image dengan cara beriklan. Gebrakan perubahan image ini juga diperlihatkan bertepatan dengan momen Natal dan Tahun Baru.

 

Seolah tak ingin melepas tema ke Indonesiaan-nya, kembali Octocom sebagai agency yang digawangi oleh Hakim Lubis selaku creative director bekerja sama dengan Jay Subiakto dan Ipang Wahid dari 25 Frames. Jay yang dikenal selalu mengedepankan gaya tradisional dari setiap karyanya dipasang sebagai konsultan dan Ipang Wahid berperan sebagai director. Selain itu masih ada tim kreatif dari VHQ yang kembali mengulang ragam kelokalan Indonesia dalam film untuk commercial televisi Gudang Garam versi Natal dan Tahun Baru.

Melalui penggabungan yang apik antara unsur grafis, animasi, serta reelshot, iklan Gudang Garam versi Natal dan Tahun Baru ini tampil dengan gaya eklektik dan menyajikan keindahan alam Indonesia yang memang lumayan jarang diperlihatkan TVC pada umumnya. Unsur tradisi yang kuat juga diperlihatkan melalui gambar-gambar dari keberagaman kebudayaan Indonesia seperti lukisan, kain batik, dan wayang.

Untuk mengerjakan TVC bergaya ekletik ini, agensi, rumah produksi, dan post production telah bekerja selama hampir sebulan penuh di tahap pra produksi. Tidak heran, ketika materi dari pra produksi masuk ke tahapan produksi, tidak banyak revisi yang dilakukan. "Revisi ada sih, tapi gak banyak paling cuma untuk revisi warna dan sedikit detail-detailnya," terang Aty Sedharto yang mengomandoi proyek ini.

Dijumpai di kantor post production VHQ di bilangan Dharmawangsa, tim kreatif yang dipercaya mengerjakan tahapan grafis disertai animasi tersebut menuturkan bahwa gaya eklektik yang disuguhkan, terinspirasi dari karya Psyop seperti pada karya-karya lukisan Cina yang dibuat siluet. "Dengan refrensi yang ada pada kita itu tidak kita contoh plek begitu saja. Karena sebenarnya yang kita ambil lebih kepada konsep siluetnya itu," terang Aty.

Siluet lukisan yang dimasukkan ke dalam TVC ini adalah lukisan yang mengusung tema Bali. Selain lukisan Bali, iklan yang dibuat dengan durasi tiga menit tersebut juga membawa bentuk-bentuk kesenian tanah air lainnya seperti gunungan dalam seni pewayangan serta seni kain batik. Proses pengerjaan dalam menggabungkan grafis serta animasi 3D yang kuat unsur tradisionalnya ini diakui oleh tim grafis dari VHQ sebagai proses yang lumayan memakan waktu lama. Pasalnya perlu ada riset lebih jauh tentang batik untuk dicocokkan dengan visualnya.

Untuk mendapatkan itu, mereka kemudian menjelajahi beragam buku yang mengangkat kesenian batik. Ironisnya, meskipun Indonesia adalah salah satu negeri penghasil kerajinan batik, tidak banyak data yang memuat tentang batik. Kalau sudah begini, tidak heran kalau batik kemudian justru dipatenkan oleh negera lain. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan beberapa jenis model kain batik dari Jawa Tengah dan Cirebon. Proses awalnya adalah dengan men-drawing batik diatas digital painting. Penggunaan media untuk digital painting itu kemudian diolah kembali dengan menggunakan program illustrator, photoshop, serta Corel Painter.

"Kita ingin memperlihatkan unsur mekanisnya namun tetap terlihat seperti hasil lukisan asli dengan menggunakan digital painting," terang Aty. Sebagai informasi, karena dalam iklan Gudang Garam ada elemen grafisnya, maka grafis tersebut di-convert ke animasi 3D dan patokannya dibuat dua kali dari ukuran PAL, 720x576 pixel.

Pengerjaan grafis ini juga berbarengan dengan proses animasi 3D. Yang lebih awal dibuat di bagian animasi 3D adalah pada saat scene seorang putri yang diusung tandu yang dibawa para pengawalnya menaburkan beras. Taburan beras ini kemudian berubah jadi ratusan burung.

"Digerakinnya menggunakan semacam force gitu. Beras yang jatuh kan disitu mesti berubah jadi ratusan burung. Nah sebelum dibuat berubah, sebelumnya kita bikin simulasinya terlebih dahulu. Gunanya biar hasil gerakan yang kita mau bisa terlihat natural," jelas Dedy Kurniawan salah satu anggota tim kreatif.

Proses animasi 3D juga diberlakukan pada scene kolosal tari-tarian. Pada kenyataannya, jumlah talent yang berjumlah ratusan orang sedang menari dengan membawa kain putih panjang membentuk barisan dan lingkaran itu tak bisa mewakilkan kesan kolosal. Setelah proses shooting, reel shoot yang didapat terlihat kosong. Apalagi dengan besaran space yang diambil serta teknik pengambilan kamera jarak jauh dengan menggunakan helikopter.

Guna mengisi kekosongan tersebut, tim 3D lantas mengakalinya dengan membuatkan duplikasi jumlah orang-orang yang tengah menari dalam jumlah kolosal tersebut. "Kita menduplikasi jumlahnya sampai tiga kali lipat," kata Aty. "Caranya, kita buat tracking kamera sebab objeknya bergerak. Disimulasikan jumlah orangnya berapa, formasinya seperti apa, sampai gerakan kainnya juga," imbuh Gaga Nugraha.

Menurut Aty, banyaknya proses penggabungan grafis dan animasi tidak terjadi pengaruh yang terlalu signifikan pada tahap render. Hanya saja untuk merender dari design grafis sampai ke animasi memang membutuhkan waktu hampir lima jam. Hal ini disebabkan kebutuhan layer yang kadang-kadang bisa dibuat lebih dari ratusan jumlahnya. Salah satu contoh yang layernya dibuat banyak adalah frame gunungan wayang yang muncul sebagai opening.

Aty kemudian juga menerangkan soal proses animasi 3D di bagian ending. Adegannya adalah adanya beberapa talent wanita menaiki tangga seperti bangunan tower yang dibuat dari ikatan ranting-ranting pohon. Di adegan tersebut, para talent memanahkan api. Bagian tersebut harus melalui composing dengan 3D. Soalnya, cuatan-cuatan apinya dinilai kurang terlihat natural. "Hampir 70 persen proses meng-compose shot-shot ini dilakukan pada tahap post pro-nya," papar istri Toar Soedharto ini. Hal ini dilakukan mengingat kondisi saat pengambilan gambar scene tersebut di lokasi syuting, anginnya berhembus sangat kencang.***

Oleh: Wiwie Uminarsih
Foto: Bambang E. Ros

   
   


 


Related Articles:


Banner