Opening Logo 'Komodo Films'

Semakin berkembangnya dunia perfilman di Indonesia tentu adalah sebuah hal yang menggembirakan. Setelah sempat sekian tahun mati suri tanpa produksi, kini jajaran judul film Indonesia banyak menghiasi bioskop di tanah air. Bahkan kadang jumlahnya melebihi film Hollywood yang juga tengah diputar pada saat yang bersamaan.

Di tengah derasnya produksi film nasional tersebut, muncul beberapa komentar dan kritik bahwa film-film yang ada masih terlalu mementingkan kuantitas, bukan mengutamakan kualitas. Ada juga yang berpendapat bahwa film-film bioskop tak lebih dari cerita sinetron yang dipanjang-panjangkan. Bahkan temanya pun tak beranjak dari yang itu-itu saja; horor, komedi dan percintaan.

Di antara banyaknya production house yang sudah ada, sekarang bertambah satu lagi dengan munculnya 'Komodo Films', yang mencoba menawarkan sesuatu yang lain dari yang sudah ada.Produksi pertama dari production house yang didirikan oleh Bryan Yuzna, pria kebangsaan Amerika, adalah sebuah film bergenre horor berjudul 'Takut (Faces of Fear)'. Berbeda dari film horor yang sudah ada, film Takut merupakan kompilasi ari 6 buah film pendek karya 7 sutradara berbeda. Bahkan nuansa horor nya pun tidak seperti film horor lain yang banyak dihiasi segala macam bentuk hantu dan mahluk-mahluk menakutkan lainnya. Horor di film Takut lebih banyak muncul dari manusia itu sendiri, yang kadang memang bisa lebih menakutkan dibandingkan hantu atau iblis sekalipun.

RomenSesuai dengan namanya, Komodo Films, maka perusahaan ini pun membuat logo yang bergambar mahluk buas asli Indonesia yang berasal dari Nusa Tenggara tersebut. Komodo dikenal sebagai turunan dari mahluk purbakala yang tetap bertahan hingga sekarang. Cara berjalannya yang gagah dan penampilannya yang agak sangar, adalah karakteristik yang coba diadaptasi untuk dijadikan opening logo dari film-film yang diproduksi oleh Komodo Films.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pertama dikumpulkan bebe-rapa referensi gam-bar komodo. Komodo dengan badan yang sangat gemuk akhirnya dijadikan sebagai rujukan. Namun demikan dalam tahap modeling yang dilakukan menggunakan Cinema 4D, badan komodo tak dibuat gemuk, melainkan lebih ke kesan gagah dan berotot. Setelah melalui proses presentasi dan revisi, maka selanjutnya tahap modeling dilanjutkan ke tahap texturing.

Textur dibuat dari foto komodo yang dijadikan referensi tadi. Hanya saja, tak semua bagian tubuh bisa diambil texturnya, hanya sekitar leher dan ekor yang tampak bagus untuk digunakan. Maka untuk mendapatkan textur yang meliputi seluruh badan, dilakukan proses tambal sulam dan copy-paste menggunakan Photoshop. Ditambah dengan textur yang diambil dari internet untuk beberapa bagian tertentu. Setelah dirender, ternyata hasil textur masih kurang memuaskan mengingat pembuatan logo ini untuk ditampilkan di layar lebar yang membutuhkan kualitas gambar yang tajam. Maka dilakukan texturing ulang. Pada proses texturing sebelumnya, proses UV unwrap bagian badan hanya dibuat satu bagian. Maka untuk mendapatkan detail yang lebih baik maka bagian badan dibuat menjadi dua bagian, yaitu bagian atas atau punggung, dan bagian bawah atau perut. Proses UV unwrap sendiri dilakukan di software 3DS Max dengan menggunakan Pelt Map pada separuh badan komodo, dan kemudian diduplikat menggunakan simetry dan dijahit pada sambungan tengahnya hingga didapatkan UV map yang sama bagian kiri dan kanannya. Demikian juga proses pembuatan textur, dibuat bagian sebelah kanan dahulu, baru setelah itu diduplikat bagian kirinya. Setelah menjadi satu bagian baru diedit lagi secara acak agar tak terlalu sama bagian kiri dan kanannya. Untuk menghilangkan sambungan textur antara badan dan kaki, dan bagian sambungan lainnya, digunakan BodyPaint yang terintegrasi dengan Cinema 4D. Proses clone dalam mode 3D pada BodyPaint memudahkan untuk mengedit bagian sambungan tersebut hingga tak tampak lagi garis sambungan yang tampak mengganggu sebelumnya. Untuk menghilangkan kesan datar pada permukaan kulit komodo, maka dibutuhkan Displacement map agar terlihat otot-otot yang menonjol pada leher komodo.

Proses berikutnya adalah rigging dan animating. Kedua proses ini dilakukan di 3D Studio Max. Untuk rigging, digunakan plug-in CAT (Character Animation Technology), plug-in keluaran Softimage. Referensi gerakan komodo diambil dari beberapa film yang didapat dari YouTube.com. Untuk efek gerakan pada kulit digunakan cloth hingga kulit tak terlihat terlalu kaku. Gerakan komodo yang melangkah harus terlihat berisi dan berat saat menapakkan kakinya di tanah. Kemudian ia berbalik dengan cepat mengeluarkan ancaman dengan membuka mulutnya lebar-lebar.

Setelah proses animasi selesai, maka berikutnya adalah proses lighting dan rendering, yang juga dilakukan di 3DS Max. Rendering menggunakan VRay. Dan karena out put yang dihasilkan nanti untuk kebutuhan layar lebar, maka out put rendering nya menggunakan ukuran 2K, dan diharapkan akan tampak tajam di layar bioskop nantinya. Dengan ukuran sebesar itu ditambah dengan displacement map, makan proses rendering cukup memakan waktu yang lumayan lama, walau sudah menggunakan network rendering dengan beberapa buah komputer.***(FS)

Client: Komodo Films
Modeling & Texturing: Fitra
Rigging & Animating: Romen
Lighting & Render: Nino

 
 

   
   
   
 

 


 


Related Articles:


Banner