Telkomsel Flexi

Flexi menawarkan service baru buat pelanggannya, yakni kemudahan penggunaan nomor Flexi di sejumlah kota Nusantara. Produknya diperlambangkan dengan burung elang terbang, yang tampak gagah mengitari pelosok Nusantara. Pemaknaan Nusantara diambil dengan ambience seperti gedung, laut, dan langit. Lokasi-lokasi tersebut kemudian disatukan ke dalam satu cerita dengan penguatan teknik animasi sebagai tambahannya. Animasi digunakan pada frame burung elang.

 

Sekilas di layar televisi, burung-burung elang dalam iklan Flexi ini hanya terlihat terbang selazim burung yang lain. Tapi di balik dapur pembuatannya, ternyata digarap lumayan detail oleh boutique animasi Cook It yang digawangi Arnas. Bahkan, Arnas bersama timnya terbang ke Singapura demi mengejar proyeknya ini sampai final. Di negeri Singa ini, Arnas Cs. ngedon terus di kamar hotel, mengotak-ngatik laptop.

"Kita lima hari di VHQ Singapura untuk bisa mengerjakan offline dan online-nya. Bayangkan dengan waktu yang sangat singkat itu, kita sampai nggak pernah ke luar hotel. Kita benar-benar ngebut. Karena pas hari Jumatnya kita bisa selesaikan, hari Minggu paginya nih iklan sudah segera tayang," ungkap pria berkepala plontos ini. Alhasil, dengan cara seperti itu, Arnas bisa juga memenuhi target deadline. Dibantu dengan dua laptop Dell dual core 2 GHz, dengan memori berkapasitas 3 GHz ditambah 160 GB HDD, Arnas mampu mengerjakan renderingnya. Untuk output rendering Arnas memilih targa sequence. Menurutnya, dengan menggunakan output jenis itu kompresi yang ia dapatkan lumayan bagus dan membuat alpha channel-nya tak terlihat crispy, tetapi lebih terlihat clean.

Sistem kebut ala Arnas ternyata tidak hanya di proses offline dan online, tetapi juga untuk proses pra produksinya. Pasalnya, karya animasinya itu harus selesai sebelum shooting dilangsungkan. Idealnya, waktu yang diberikan kepadanya seharusnya sekitar dua mingguan lebih. Tapi, yang ia dapatkan malah kurang dari dua minggu. Sebab di tahap pra produksi ini Arnas sudah mengerjakan proses modeling serta texturing untuk karakter animasinya.

Seiring mengerjakan proses modeling dan texturing, Arnas mencoba selalu berkomunikasi dengan Gordon, director asal Afrika yang dipercaya di iklan ini sebagai eksekutornya. Arnas mengatakan, Gordon pun khawatir akan bentukan karater animasinya. Maklum, ini proyek kerjasama pertama Gordon dengan dirinya.

"Sebelum shooting, kita sudah siapkan dulu line test-nya seperti apa, look-nya seperti apa, gerakannya bagaimana. Director ini ingin animasinya benar-benar seperti yang dia inginkan, yang semuanya terlihat real. Jadi, pada saat shooting, saya hanya bawa hasil final yang dia inginkan itu seperti apa," jelas animator yang sudah menyeriusi animasi selama hampir 14 tahun ini.

Proses selanjutnya adalah meng-compose hasil yang didapat dari real shoot dengan karakter animasinya. Real shoot diambil di tiga lokasi berbeda, dengan memakan waktu shoot tiga hari berturut-turut. Shooting-nya sendiri tidak pernah sampai malam untuk wrap-nya karena gambar shoot-nya sendiri bersifat out door dan day light.
Arnas dan dua anggota timnya: Bonnie dan Ready harus memenuhi tuntutan director yang menginginkan karekter burung elang terlihat real. Maka, Arnas dan dua rekannya itu berkonsentrasi terlebih dulu mengamati gerakan-gerakan burung yang berbadan besar. Referensi yang dipilihnya adalah menonton film dari National Geographic dan Animal Planet. Mereka butuh waktu seharian untuk mengamatamati berbagai jenis gerakan burung itu. Gerakan burung yang diamati, misalnya kepakan sayap, gerakan mata, juga cengkeraman kaki-kakinya. "Banyak yang kita dapatkan dengan referensi dari National Geographic dan Animal Planet ini. Kita betul-betul perhatiin bagaimana dia kepakin sayapnya saat melewati gedung, bagimana cara dia terbang dengan kepakin sayap, beberapa derajat dari tanah, dari terbang rendah sampai terbang tinggi, terus kadang tiba-tiba diam, lalu menukik." terang Bonnie.

Lantaran materi-materi yang sehubungan dengan karakter animasinya selesai lebih dulu sebelum syuting, untuk memudahkan tahap compositing dengan real shoot, Arnas bareng timnya mengakalinya dengan mengatur key frame di setiap scene si burung Elang. " Di awal kita diberitahu terlebih dulu gambaran ceritanya. Karena sudah tahu seperti itu, lalu kita buatlah karakter animasinya seperti yang mereka minta sesuai dengan brief story board. Ada hampir 31 scene untuk gerakan animasinya. Agar kita dapat kemudahannya, ya kita buat key frame setiap gerakan sebagai template. Setelah itu, baru di-compose dengan real shootnya," paper Arnas.

Masih sehubungan dengan keinginan director untuk mendapatkan karakter yang real. Selain mengambil refrensi dari film National Geographic dan Animal Planet, Tim dari Cook It pun mengambil referensi dari berbagai gambar burung Elang. Dari referensi itu didapat contoh detail susunan bulu-bulunya, kemudian diaplikasikan ke dalam proses modelling dan texturing. 

"Texturing bulu-bulunya harus benar-benar seperti burung asli. Makanya, kite buat texturing-nya ada shadow-nya, ada ruas-ruasnya. Selain bulu-bulu tadi, kita juga buat texturing untuk kaki, dengan menambahkan kuku seperti mencengkram benda. Lalu texturing matanya kita buat seperti bisa berkedip," imbuh Bonnie. 

Setelah teksturing selesai dikerjakan, baru kemudian karakternya digerakkan. Berurusan dengan gerakan, maka rigging seperti pada sayap, kepala, dan kaki, Boonie dan Ready mengerjakannya secara manual alias tidak menggunakan biped. Cara ini dilakukan tak lebih karena selera animatornya saja. Lalu, Bonnie melakukan link pada object-nya agar rigging setiap bagiannya satu same lain nyambung gerakannya. "Untuk link object-nya kita buat dengan menggunakan poros, terdiri dari parent and child," ulasnya. ***

 
   
 


 


Related Articles:


Banner