TVC Kartu As
Kartu As menawarkan iklan kejutan pulsa 1 miliar. Dalam iklan ini, Aming di-treatment menjadi superhero kocak. Aming seperti The Flash, tapi dibuat bergaya lucu. Perhatikan saja, dari pakaian sampai make up yang dipakainya tidak terlihat seperti The Flash sebenarnya selayak di film-film. Dalam iklan ini, Aming berkostum dengan padu-padan warna merah dan putih yang mengetat di badan, dan dikombinasikan dengan celana kedodoran. "Lihat deh, celananya yang dipakai Aming, kayak popok 'kan? Tapi bajunya sengaja dibikin ketat. Yang kedodoran cuma celana sama sepatunya. Udah gitu dia pakai bulu mata lentik lagi, hehehe," ulas Khrisna Anggara alias Anggy, sang director iklan ini.
Lagi-lagi, Anggy dipercaya untuk menggarap iklan Kartu As dengan talent Aming dari biro iklan Hotline. Sebelumnya, Anggy pernah menggarap TVC Kartu As, layanan sms 99 per detik, versi Aming dengan karakter orangtua. Kali ini Anggy kembali menampikan Aming dengan karakter berbeda dari konsep sebelumnya lantaran konsep jualannya pun juga berbeda. "Konsepnya adalah waktu. Satu hal yang menjadi the most expensive things, karena yang dijual kan pulsa satu milliar," terang Anggi.
Penciptaan karakter yang dibuat Anggy awalnya dibuat dalam tiga versi, dan itu ia ajukan ketika mengikuti proses pitching director. Di antaranya adalah versi Ninja Hatori, The Flash, dan versi lari Marathon. Biro iklan pada akhirnya memilih The Flash karena cocok dengan strategi marketing yang ingin disampaikan. Hal ini sesuai dengan kelebihan Telkomsel, perusahaan layanan selular yang memiliki kecepatan service.
Service kecepatan yang dilakukan ala The Flash tersebut di-treatment oleh director lewat iklan yang mengusung elemen heavy post. Heavy post tersebut diantarkan dengan menggunakan flame, guna mencapai hasil efek-efek kecepatan ala gerakan The Flash. Pengerjaan post ini sendiri dipercayakan di VHQ dengan didukung tiga editor sekaligus, yang bekerja dua hari nonstop dengan sistem bertukar shift, tanpa menghentikan mesin flame yang digunakan. Setelah shift pagi menyelesaikan garapannya, segera shift malam kembali meneruskannya. "Semuanya dikerjakan dengan tight time banget," pungkas Anggy.
Gara-gara tight time itu pun ada sedikit ide Anggy yang akhirnya tidak bisa dikompromikan di dalamnya, seperti penggunaan effect higlight ketika Aming berlari cepat. "Inginnya sih dibuat rada heboh. Ada tambahan effect higlight seperti efek dari listrik-listriknya. Tapi kompromi dengan waktu aja deh. Khawatirnya juga kalau dibuat lebih heboh, orang yang menonton juga kurang memperhatikan massage-nya sendiri seperti apa," terang pria kelahiran Jakarta, 21 Oktober 1980 ini. Alhasil, efek yang diciptakan tak berlebihan. Visual bisa dinikmati, pesan pun bisa tertangkap maksudnya. Salah satu tim editor proyek post iklan ini, Eko Cahyono mengatakan, semua penciptaan efek ala The Flash yang dikerjakan di mesin Flame tersebut menggunakan teknis motion blur dan motion trail. Motion blur menghasilkan effect blur yang dibuat pada larinya Aming sehingga berkecepatan tinggi tapi tampak terlihat halus. Sementara motion trail dibuat untuk menciptakan larinya Aming agar terkesan memanjang Caranya, dengan meng-copy satu persatu dari image Aming yang asli yang diambil dari real shot. "Panjangnya sih dibuat tidak pakai patokannya berapa. Enaknya menurut kita dibikin segitu aja sih. Tapi kalau untuk speed-nya sih memang ada ukurannya sesuai dengan yang dicapai di time work. Sayangnya, aku lupa waktu itu kita pakai berapa ya? maklum udah lumayan lama sih ngerjainnya," kata Eko.
Di scene lain terdapat image Aming yang terlihat berbelok. Scene itu terdapat pada saat Aming berlari dengan posisi badan berbelok untuk menaiki tangga. Agar rnenghasilkan effect berbelok tersebut, secara teknis Anggy menjelaskan seperti berikut, "Effect blur yang pas Aming belok itu dikerjakan lebih detail di tahap wrapping. Jadi, hasilnya seperti melengkung-melengkung gitu kan?"
Anggy menambahkan, selain mengejar efek-efek seperti yang disebut di atas, dia harus menampilkan effect guratan-guratan garis, yang seolah-olah ada partikel lain sebagai pendukungnya, yang muncul berbarengan dengan effect blur. Anggy pun mengungkapkan, keseluruhan effect yang dikerjakan di post production tersebut tak akan berjalan lancar apabila tidak didukung dengan pengambilan live shot yang benar saat proses shooting-nya. Pada proses ini, Anggy mentitikberatkan live shot dengan menggunakan green screen meskipun lumayan ribet dan boros waktu. Ini terpaksa dilakukan karena kalau sampai dishoot asal-asalan, akibatnya bisa fatal. Pengerjaaan di post akan memakan waktu lama. Padahal waktu yang ditetapkan klien dan biro iklan sangat tight.
Shooting yang memakai green screen tersebut berhasil mengejar hampir dua belas set up dalam waktu sehari. Set up dengan green screen yang sudah didapat kemudian digabungkan layer per layer dan di-rotoscope di bagian post. Proses kerja ini menggunakan hampir enam layer perframenya.
Secara keseluruhan, penggabungan layer yang dikerjakan bisa diatasi dengan baik. Kendati begitu, Eko mengakui, ada sebagian frame yang lumayan menguras perhatiannya karena harus dikerjakan berulang kali untuk meng-compose-nya. Frame tersebut adalah ketika Aming menempelkan poster sebagai massage-nya di punggung salah satu talent.
"Agak susahnya itu pada saat compose poster di bagian belakang baju orang. Bagaimana sih kalau orang pakai baju terus, dia posisinya berbalik badan gitu? Jadi aku mengakalinya dengan cara match back balik dengan double layer dan pakai layer aslinya sehingga seperti ada bayangan bajunya. Tujuannya sih agar terlihat lebih real," ungkap Eko.
Poster yang ditempel Aming lumayan banyak image-nya dan menjadi pesan utama dari isi komunikasi iklan ini. Pada saat shooting, Director-nya mengakui itu bukan berupa poster bergambar sungguhan. Yang ditempel saat shooting adalah poster kosong berwarna hijau. Begitu juga dengan bus yang bertuliskan kejutan 1 miliar. Bus itu aslinya kosong tanpa ada tulisan. Tulisannya baru dikerjakan di post.
Saat iklan ini ditayangkan, Aming tampak berlari kencang seperti The Flash sambil menempel-nempel poster. Menurut director-nya, gerakan aming ini sebenarnya dilakukan dengan cara berlari tidak full tenaga. Tapi karena si talent nya adalah si Aming, adegan berlari seperti itu akhirnya jadi dikerjakan dengan over exciting.***
Interview oleh: Fitra Sunandar & Wiwie Uminarsih
Ditulis oleh: Wiwie Uminarsih
Foto: Bambang E. Ros
![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() |





